bogorplus.id - Berpikir positif sering kali dianggap sebagai kunci utama dalam menghadapi segala persoalan hidup. Namun, ketika tuntutan untuk selalu bersikap positif justru membungkam emosi negatif yang jujur, kondisi ini berubah menjadi toxic positivity. Fenomena psikologis ini tidak hanya menghambat proses emosional yang sehat, tetapi juga menyimpan bahaya laten bagi kesehatan mental.

Toxic positivity didefinisikan sebagai kondisi ketika seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif, sekaligus menolak emosi negatif seperti sedih, marah, atau kecewa. Padahal, penolakan emosi negatif dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan mental yang serius, mulai dari stres berat, kecemasan berkepanjangan, gangguan tidur, depresi, penyalahgunaan obat terlarang, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Mengenali Ciri-Ciri Toxic Positivity

Toxic positivity umumnya tercermin melalui ucapan sehari-hari. Seseorang yang terjebak dalam pola pikir ini kerap melontarkan petuah yang terkesan positif, namun sebenarnya bertujuan untuk menyangkal emosi yang sedang dirasakan.

Beberapa indikasi seseorang mengalami atau menyebarkan toxic positivity antara lain:

  • Menyembunyikan perasaan sedih atau kecewa yang sebenarnya sedang dirasakan.
  • Cenderung menghindari atau mendiamkan masalah tanpa menyelesaikannya.
  • Muncul rasa bersalah yang tidak semestinya saat merasakan atau mengekspresikan emosi negatif.
  • Memberikan dorongan semangat yang justru terkesan meremehkan, seperti kalimat, "Jangan menyerah, masalah sepele seperti itu saja tidak bisa diatasi."
  • Membandingkan penderitaan diri sendiri dengan orang lain, misalnya, "Kamu lebih beruntung, masih banyak orang yang lebih menderita dari kamu."
  • Menyalahkan korban (victim-blaming) atas masalah yang menimpanya dengan dalih mencari sisi positif, seperti, "Coba lihat sisi positifnya. Lagi pula, ini salahmu juga, kan?"

Selain interaksi langsung, media sosial turut andil dalam menyebarkan tren toxic positivity. Standardisasi kebahagiaan digital mendorong pengguna untuk hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupan mereka. Akibatnya, timbul tekanan sosial untuk selalu terlihat sempurna, yang kemudian memaksa individu mengubur emosi negatif mereka demi menjaga citra di dunia maya.

Langkah Menghindari Toxic Positivity

Untuk mencegah dampak buruk toxic positivity terhadap diri sendiri maupun orang sekitar, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan: