bogorplus.id - Pernahkah Anda berada dalam suatu situasi dan tiba-tiba merasa sangat familier, seolah-olah momen tersebut sudah pernah terjadi sebelumnya? Fenomena psikologis dan neurologis ini dikenal dengan istilah dejavu. Berasal dari bahasa Prancis yang berarti "pernah melihat", dejavu merupakan kondisi yang umum dan wajar dialami oleh manusia.
Data penelitian memperkirakan sekitar 70 persen populasi di seluruh dunia pernah mengalami dejavu setidaknya sekali dalam hidup. Fenomena ini lebih sering dijumpai pada kelompok usia muda serta individu yang kerap mengalami mimpi sadar (lucid dream).
Meski dejavu merupakan kondisi yang normal, dalam beberapa kasus medis, sensasi ini menyerupai gejala dari gangguan kesehatan tertentu. Beberapa di antaranya meliputi epilepsi, migrain dengan aura, hingga demensia.
Empat Teori Ilmiah di Balik Terjadinya Dejavu
Hingga kini, para ilmuwan dan pakar neurosains terus meneliti penyebab pasti dari fenomena ini. Berikut adalah empat teori logis yang paling umum menjelaskan terjadinya dejavu:
1. Persepsi Terbelah (Split Perception)
Teori ini menyatakan bahwa dejavu terjadi akibat adanya jeda waktu saat otak memproses informasi visual. Ketika seseorang melihat suatu objek atau pemandangan untuk pertama kali tanpa fokus penuh, otak sebenarnya sudah merekam informasi tersebut secara bawah sadar. Saat orang tersebut melihat kembali objek yang sama dengan kesadaran penuh di kemudian waktu, otak akan memprosesnya sebagai ingatan lama yang terulang.
2. Pemanggilan Memori (Memory Recall)
Teori ini berkaitan dengan cara otak mencocokkan informasi baru dengan memori masa lalu. Dejavu dapat terpicu ketika seseorang menghadapi situasi, aroma, atau tempat yang mirip dengan peristiwa masa lalu yang sudah terlupakan. Sebagai contoh, mengunjungi suatu tempat yang mirip dengan lokasi yang pernah didatangi saat masa kecil dapat memicu rasa familier yang kuat.
3. Gangguan Arus Listrik Otak
Dari sudut pandang neurologis, dejavu bisa terjadi akibat adanya gangguan minor sementara pada aliran listrik di dalam otak. Gangguan ini menciptakan impuls listrik yang sedikit berbeda dari biasanya. Pola kelainan arus listrik ini mirip dengan kondisi otak pasien epilepsi, namun bersifat sementara dan tidak mengganggu fungsi kognitif otak secara keseluruhan.
4. Aktivitas di Lobus Temporal
Sejumlah riset menunjukkan bahwa dejavu berkaitan erat dengan aktivitas di lobus temporal, yaitu bagian otak yang berfungsi menyimpan dan memproses memori. Studi klinis mendeteksi adanya aktivitas gelombang listrik di area lobus temporal saat seseorang mengalami dejavu, yang polanya serupa dengan aktivitas otak penderita epilepsi.

