bogorplus.id - Masa pensiun sering kali dianggap sebagai waktu untuk beristirahat dan menikmati hari tua. Namun, bagi sebagian orang, transisi ini justru menjadi fase yang sulit hingga memicu kondisi psikologis yang dikenal sebagai post power syndrome atau sindrom pascakekuasaan.
Post power syndrome adalah kondisi ketika seseorang terus hidup dalam bayang-bayang kekuasaan atau jabatan yang pernah dimilikinya, serta belum bisa menerima hilangnya pengaruh tersebut. Kondisi ini umumnya dialami oleh individu yang baru saja memasuki masa pensiun atau purnatugas.
Bagi banyak orang, pekerjaan bukan sekadar sarana mencari nafkah, melainkan juga bentuk aktualisasi diri dan tujuan hidup. Kehilangan pekerjaan berarti juga kehilangan apresiasi, rasa hormat, pujian, serta perasaan dibutuhkan oleh orang lain. Perubahan drastis inilah yang kerap memicu perasaan tidak berguna dan hilangnya arah hidup.
Jika dibiarkan tanpa penanganan dan dukungan yang tepat, post power syndrome dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental penderitanya.
Gejala Post Power Syndrome yang Perlu Diwaspadai
Mengenali gejala awal post power syndrome sangat penting agar langkah antisipasi dapat segera dilakukan. Beberapa gejala emosional dan perilaku yang kerap ditunjukkan oleh penderita antara lain:
- Kehilangan gairah dan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari setelah pensiun.
- Menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, atau cepat marah.
- Menarik diri dari lingkungan sosial dan interaksi pertemanan.
- Memiliki ego yang tinggi, tidak mau kalah, dan enggan mendengar pendapat orang lain.
- Cenderung sering mengkritik atau mencela pandangan orang di sekitarnya.
- Kerap membicarakan kejayaan, kehebatan, atau kekuasaan yang pernah dimiliki di masa lalu.
Cara Mendampingi Penderita Post Power Syndrome
Seseorang yang mengalami sindrom ini membutuhkan dukungan moral yang besar dari keluarga dan kerabat terdekat. Alih-alih menjauh karena perubahan sikapnya yang negatif, berikut adalah beberapa langkah bijak untuk mendampingi mereka:

