BOGORPLUS.ID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng menunjukkan langkah progresif dalam pengelolaan sampah sekaligus pengembangan infrastruktur dengan memperkenalkan inovasi pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan campuran aspal jalan. Langkah strategis ini diresmikan pada hari Jumat, 26 Juni 2026, dengan tujuan ganda menekan volume limbah sekaligus memperkuat kualitas jalan di wilayah tersebut.

Inovasi teknologi ini diklaim memberikan manfaat signifikan terhadap durabilitas jalan raya, di mana aspal yang diperkaya plastik mampu menutup pori-pori permukaan jalan lebih rapat. Hal ini menjadikan struktur jalan lebih kebal terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh faktor cuaca dan paparan air secara terus-menerus.

Secara riil, Pemkab Buleleng telah mengaplikasikan teknologi aspal plastik ini pada sejumlah ruas jalan vital di wilayahnya. Penerapan ini mencakup jalur sepanjang 15 kilometer menuju objek wisata religius Pura Segara Rupek, area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bengkala, hingga beberapa ruas jalan di pusat perkotaan Singaraja.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPERKIM) Kabupaten Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra, menjelaskan latar belakang mengapa inovasi ini sangat mendesak dilakukan di Buleleng.

"Yang pertama kita punya masalah sampah di Buleleng yang belum kita tangani dengan bagus, terutama sampah-sampah plastik. Yang kedua jalan rusak juga. Bagaimana caranya dua masalah ini bisa dijawab dengan sekali langkah," jelas Adiptha pada hari Jumat (26/6/2026).

Keunikan dan keunggulan teknologi ini telah mendapatkan pengakuan resmi berupa Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), menjadikan Buleleng sebagai pionir di Indonesia dalam penerapan aspal berbasis limbah plastik.

"Cuma di Buleleng yang baru punya aspal plastik ini. Banyak teman-teman daerah lain datang ke kita untuk diskusi dan belajar bagaimana penerapannya," ujar Adiptha, menyoroti minat daerah lain terhadap keberhasilan proyek ini.

Secara teknis, daya tahan aspal hasil inovasi ini jauh melampaui aspal konvensional. Jika aspal biasa diperkirakan rusak setelah enam hingga tujuh tahun pemakaian, aspal plastik diproyeksikan dapat bertahan hingga satu dekade.

"Kalau aspal biasa itu paling 6-7 tahun sudah rusak. Tapi dengan aspal plastik, kita bisa bertahan sampai 10 tahun bahkan. Jadi lebih hemat karena anggaran pemeliharaan bisa dialihkan ke ruas jalan yang lain," terang Adiptha mengenai efisiensi anggaran jangka panjang.