BOGORPLUS.ID - Inovasi berkelanjutan ditunjukkan oleh warga di Kalurahan Cagunan, Trimurti, Srandakan, Kabupaten Bantul, yang berhasil mengubah limbah cair dari industri wingko menjadi produk minuman kemasan siap minum. Usaha kreatif ini kini sepenuhnya dikelola dan digerakkan oleh kelompok ibu-ibu di desa tersebut.
Proses pengolahan yang dilakukan di rumah produksi setempat menunjukkan kesigapan para pekerja yang tampak menuangkan air kelapa dari galon bekas ke dalam panci rebusan berukuran besar. Cairan tersebut kemudian dipanaskan hingga mencapai titik didih sempurna sebelum diolah lebih lanjut.
Setelah proses perebusan selesai, bahan penyegar ditambahkan ke dalam campuran air kelapa tersebut, yaitu gula pasir dan perasan jeruk nipis. Minuman segar hasil olahan ini kemudian segera dikemas ke dalam botol plastik agar siap didistribusikan kepada konsumen.
Ide brilian ini muncul dari Ketua Desa Preneur Trimurti, Sulastri, yang melihat banyaknya air kelapa sisa pembuatan wingko yang terbuang sia-sia oleh para perajin di wilayah Trimurti. Ia menyadari potensi ekonomis dari limbah tersebut yang sebelumnya hanya dibeli murah oleh produsen nata de coco.
Dilansir dari Detikcom, Sulastri mengungkapkan bahwa ia tergerak untuk memberikan nilai tambah pada limbah tersebut, "Lalu saya lihat kok air kelapa itu dibeli dengan harga murah oleh produsen nata de coco," katanya kepada wartawan di Trimurti, Srandakan, Bantul, Jumat (26/6/2026).
Berbekal tekad tersebut, Sulastri mulai serius mempelajari metode pengolahan air kelapa sejak tahun 2024, sebelum akhirnya ia memutuskan membeli limbah tersebut dari perajin wingko dengan harga yang lebih adil.
"Setelah bisa mengolah air kelapa, saya berpikir membeli limbah wingko itu dengan harga Rp 10-20 ribu per galon. Nah, akhirnya mereka mau menjual ke saya," ujar Sulastri, menjelaskan bagaimana ia membangun kemitraan dengan para produsen wingko.
Bersama anggota kelompok Desa Preneur, produksi massal dimulai dengan langkah awal menyaring air kelapa secara menyeluruh untuk menghilangkan semua kotoran yang mungkin masih tersisa dalam cairan limbah tersebut.
Tahapan selanjutnya adalah perebusan, di mana gula pasir ditambahkan untuk meningkatkan rasa, karena air kelapa murni dianggap kurang memiliki kesegaran yang memadai untuk minuman kemasan. "Setelah disaring, kita rebus air kelapanya sampai mendidih. Lalu setelah mendidih diberi gula pasir, karena kalau hanya air kelapa kurang segar," ucap Sulastri.






.png)