BOGORPLUS.ID - Masyarakat Desa Patakbanteng, yang berlokasi di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, menunjukkan keberhasilan signifikan dalam upaya pemulihan ekosistem hutan lindung di kawasan Gunung Prau. Inisiatif ini berhasil dilakukan melalui pengelolaan jalur pendakian yang dikelola secara swadaya oleh warga setempat.
Fenomena kerusakan lingkungan di wilayah tersebut terjadi pasca krisis moneter 1997, di mana banyak warga terpaksa mengalihkan fungsi hutan lindung menjadi lahan pertanian demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dampak dari alih fungsi lahan ini sangat terasa pada lingkungan sekitar, termasuk penurunan signifikan pada debit mata air alami.
Sebagai akibat dari degradasi ekologis tersebut, risiko terjadinya kebakaran hutan saat musim kemarau dilaporkan meningkat drastis, menciptakan ancaman serius bagi keberlanjutan sumber daya air di wilayah tersebut.
Jembatan Kaca Bromo Siap Beroperasi Penuh Setelah BB TNBTS Teken Kontrak Sewa Aset Lima Tahun
Titik balik pemulihan lingkungan mulai terlihat sejak tahun 2012, seiring dengan meningkatnya popularitas jalur pendakian Gunung Prau via Desa Patakbanteng. Jumlah wisatawan yang datang melonjak, bahkan mencapai lebih dari 50 pendaki setiap akhir pekan, menjadi katalisator perubahan positif.
Menyikapi kondisi ini, warga setempat kemudian mengambil langkah proaktif dengan membentuk kelompok peduli lingkungan yang berfokus pada konservasi. Pendapatan yang diperoleh dari retribusi tiket pendakian dialokasikan secara khusus untuk membeli bibit pohon serta membangun rumah pembibitan tanaman endemik.
Kepala Desa Wisata Patakbanteng, Solichun, menegaskan bahwa kerusakan hutan lindung menjadi lahan pertanian telah menyebabkan dampak langsung pada sumber daya air. "Hutan lindung berubah jadi lahan pertanian, mata air pun berkurang," kata Solichun.
Upaya restorasi hutan gundul ini digalakkan secara intensif oleh masyarakat lokal pada tiga bulan pertama setiap tahun, periode di mana pendakian ke puncak Gunung Prau ditutup total karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Solichun menambahkan filosofi di balik alokasi dana ini, "Ada persentase uang yang kami dapat dari gunung, untuk kembali ke gunung," sebut Solichun.
Inisiatif konservasi berbasis ekonomi lokal ini terbukti efektif dalam memperbaiki tutupan vegetasi hutan serta berhasil memulihkan kembali debit mata air yang sempat menurun drastis di kaki Gunung Prau. Upaya swadaya masyarakat ini juga mendapatkan dukungan penting melalui program pendampingan dari Bakti BCA.
"Kami tanam tanaman lokal pengendali erosi," ujar Solichun, menekankan fokus penanaman pada spesies yang efektif mencegah erosi tanah.






.png)