bogorplus.id - Perilaku perundungan (bullying) tidak hanya dapat terjadi di lingkungan sekolah atau tempat kerja, tetapi juga kerap berlangsung di dalam lingkup keluarga. Sayangnya, kasus perundungan di ranah domestik ini sering kali tidak disadari oleh para korbannya.
Perundungan merupakan bentuk perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja untuk membuat orang lain merasa tidak nyaman, tersudutkan, atau terintimidasi. Dalam lingkungan keluarga, tindakan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, mulai dari saudara kandung, orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, hingga mertua.
Meskipun memiliki kemiripan jenis perilaku dan tujuan, perundungan dalam keluarga memiliki perbedaan mendasar dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau hubungan yang abusive. Perundungan keluarga umumnya melibatkan anggota keluarga di luar relasi pasangan intim.
Tanda Perundungan dalam Keluarga
Sebagian besar kasus perundungan dalam keluarga terjadi dalam bentuk verbal dan emosional. Beberapa indikasi perilaku yang menjadi tanda perundungan antara lain:
- Memberikan tuntutan yang tidak masuk akal kepada korban.
- Lelucon yang merendahkan serta kritik yang tidak membangun.
- Manipulasi emosi korban untuk kepentingan kendali personal.
- Penuduhan secara sepihak bahwa korban berlaku egois.
- Pengabaian terhadap perasaan, pemikiran, dan kebutuhan korban.
- Membesar-besarkan kekurangan korban di depan anggota keluarga lain untuk meruntuhkan rasa percaya diri.
- Penanaman rasa bersalah secara tidak wajar (gaslighting).
- Penerapan silent treatment sebagai bentuk hukuman emosional.
- Penghasutan anggota keluarga lain untuk mengisolasi atau melawan korban.
Meski dominan secara emosional dan verbal, perundungan dalam keluarga juga berpotensi melibatkan kekerasan fisik, seperti tindakan mendorong, menampar, hingga menendang.
Dampak Kesehatan dan Langkah Penanganan
Perundungan di ranah keluarga membawa dampak psikologis dan fisik yang signifikan. Sejumlah riset menunjukkan bahwa korban kerap mengalami penurunan rasa percaya diri, stres berkepanjangan, gangguan kecemasan, hingga depresi. Tekanan emosional tersebut berisiko memicu masalah kesehatan fisik, seperti insomnia, sakit kepala, nyeri otot, gangguan pencernaan, hingga tekanan darah tinggi.






.png)