BOGORPLUS.ID - Kenaikan signifikan pada volume air dan lumpur di area penampungan Lumpur Lapindo, Sidoarjo, telah mencapai jarak yang sangat dekat dengan bibir tanggul penahan sejak awal pekan ini. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat sekitar mengenai potensi terjadinya luapan material.
Situasi kritis ini dikonfirmasi terjadi di beberapa titik, termasuk titik 71 yang berada di perbatasan antara Kelurahan Siring dan Kelurahan Ketapang Keres. Sebagai respons cepat, telah dilakukan upaya peninggian tanggul di lokasi tersebut oleh pihak berwenang.
Selain peningkatan volume di titik 71, warga juga mendeteksi adanya rembesan air di bawah tanggul titik 68, yang memiliki panjang sekitar 100 meter. Titik 68 ini berfungsi sebagai pembatas antara Desa Glagaharum dan Desa Gempolsari, menambah urgensi penanganan.
Kekhawatiran warga sangat beralasan, mengingat peristiwa tragis amblesnya tanggul serupa yang pernah terjadi enam tahun lalu. Kondisi saat ini memicu kembali trauma mendalam bagi penduduk setempat, khususnya di Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin.
Ketua RT 11 RW 2 Desa Gempolsari, Sudarmawan, menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai kedekatan air dengan batas tertinggi tanggul. "Kalau melihat kondisi sekarang, warga tentu khawatir. Air sudah hampir menyentuh bibir tanggul. Kami trauma dengan kejadian tahun 2018 saat tanggul ambles sepanjang kurang lebih 100 meter," ujar Sudarmawan.
Menanggapi situasi darurat ini, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) segera mengambil langkah mitigasi dengan memprioritaskan pengaliran material lumpur menuju Sungai Porong. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi tekanan yang ada pada struktur tanggul penahan.
Fahmi, Ketua Tim Operasi dan Pemeliharaan PPLS, menjelaskan bahwa pengoperasian kapal keruk, pompa, dan alat berat sedang dilakukan untuk merekayasa alur aliran lumpur dari pusat semburan menuju kolam pompa. Hal ini dilakukan demi mengurangi beban pada tanggul utama.
Pengaliran material ke Kali Porong ini merupakan tindakan prioritas utama demi menjaga keselamatan infrastruktur vital dan kawasan permukiman warga. "Lumpur tetap mengalir ke Kali Porong, hal itu dilakukan untuk menjaga infrastruktur, objek-objek vital baik itu permukiman, jalan raya, dan rel kereta api," terangnya Fahmi.
Selain ancaman luapan, masyarakat di wilayah terdampak juga menghadapi masalah lain terkait ketersediaan air bersih. Pasokan air bersih menjadi sulit didapatkan karena kontaminasi oleh garam serta bau menyengat yang ditimbulkan oleh material lumpur tersebut.






.png)