BOGORPLUS.ID - Fenomena kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite kini menjadi sorotan utama masyarakat di Kabupaten Klungkung, Bali. Kekosongan pasokan ini dilaporkan terjadi secara berulang di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setempat, meskipun stok diyakini aman.
Peristiwa ini memicu munculnya istilah kontroversial 'tangki setan' di kalangan warga Klungkung, yang menduga adanya pola distribusi yang tidak wajar. Kontroversi ini muncul karena pasokan Pertalite menghilang pada jam-jam tertentu, meskipun pengelola SPBU mengklaim tidak ada rekayasa distribusi.
Tiga SPBU di wilayah Kecamatan Klungkung dan Kecamatan Dawan dilaporkan mengalami kekosongan stok pada waktu yang bervariasi dalam beberapa hari terakhir. Lokasi yang terdampak antara lain SPBU Besang di Jalan Ngurah Rai, SPBU Siku di Jalan Rama, dan SPBU Batu Tabih di Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan.
Kondisi ini sangat dirasakan oleh para pengguna sepeda motor, seperti Kadek Suardana, seorang pengemudi ojek online yang merasa heran dengan situasi berulang ini. Ia memperkirakan bahwa ketersediaan Pertalite sebenarnya ada, namun sengaja tidak dialokasikan untuk konsumen umum pada jam-jam tertentu.
"Kita ini sering dikalahkan sama tangki setan itu. Ini sudah jadi rahasia umum. Kalau itu sudah masuk, sudahlah, kita tidak akan kebagian," terang Suardana kepada media pada Rabu (10/6/2026).
Akibat kekosongan stok, banyak warga terpaksa membeli BBM dari pedagang eceran atau beralih ke Pertamax yang harganya jauh lebih tinggi. Suardana mengungkapkan bahwa harga Pertamax kini telah naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter.
Suardana juga menyoroti perbedaan pengawasan antara kendaraan roda empat dan roda dua, yang menurutnya memudahkan praktik pengisian berulang oleh pengecer. Ia membandingkan dengan SPBU lain yang lebih tegas menolak pengecer dan stoknya selalu lancar.
"Kalau mobil kan terlihat jelas. Kalau ini bisa berkali-kali. Sudah banyak yang tahu hal ini. Kita bisa bandingkan dengan SPBU yang tegas menolak pengecer, pasti lancar seperti yang di Negari. Kalau di sini tulisan larangannya saja yang terpampang jelas," ujarnya.
Menanggapi tuduhan warga tersebut, Wayan Alit selaku petugas administrasi SPBU Besang membantah adanya rekayasa dalam penyaluran BBM. Ia menegaskan bahwa kekosongan yang terjadi murni disebabkan oleh kendala operasional teknis di SPBU.





