bogorplus.idIstilah neurodivergent semakin sering digunakan untuk menggambarkan individu yang memiliki cara kerja otak berbeda dari kebanyakan orang. Perbedaan ini memengaruhi cara seseorang berpikir, belajar, berkomunikasi, maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Meski sering dikaitkan dengan kondisi medis tertentu, neurodivergent bukanlah sebuah diagnosis atau penyakit.

Konsep neurodivergent berasal dari istilah neurodiversity, yaitu pandangan bahwa setiap manusia memiliki cara kerja otak yang unik. Dengan kata lain, perbedaan fungsi otak dipandang sebagai bagian dari keberagaman manusia, bukan semata-mata sebagai kelainan yang harus diperbaiki. Karena itulah, banyak ahli kini lebih menekankan pentingnya memahami dan mendukung individu neurodivergent sesuai kebutuhannya.

Bentuk-Bentuk Neurodivergent

Neurodivergent dapat muncul dalam berbagai kondisi yang memengaruhi cara seseorang memproses informasi, belajar, maupun berinteraksi dengan orang lain. Berikut beberapa bentuk neurodivergent yang paling dikenal.

1. Autisme

Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi yang memengaruhi perkembangan saraf sehingga berdampak pada kemampuan berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan pola perilaku.

Setiap individu dengan autisme memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang mengalami kesulitan memahami komunikasi sosial, memiliki minat yang sangat spesifik, atau menunjukkan perilaku berulang. Meskipun demikian, banyak penyandang autisme juga memiliki kemampuan atau bakat tertentu yang menonjol di bidang tertentu.

2. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD termasuk salah satu bentuk neurodivergent yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, perilaku impulsif, dan tingkat aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan anak seusianya.