BOGORPLUS.ID - Kondisi geopolitik dunia yang sedang bergejolak telah memberikan pembelajaran signifikan bagi Indonesia terkait ketahanan ekonomi nasional. Situasi ini diperparah oleh adanya isu krisis pangan dan disrupsi yang terjadi pada rantai pasok global saat ini.

Kondisi ketidakpastian global tersebut secara tegas menunjukkan bahwa ketergantungan ekonomi nasional hanya pada ekspor komoditas mentah tidak lagi memadai untuk menjamin stabilitas. Indonesia kini perlu melakukan transformasi fundamental dalam struktur ekonominya.

Negara-negara yang terbukti tangguh dalam menghadapi ketidakpastian global adalah mereka yang berhasil membangun basis struktur ekonomi domestik yang kokoh. Struktur ekonomi ini harus memiliki karakteristik produktif dan terdiversifikasi.

Salah satu pilar penting untuk mencapai struktur ekonomi yang kuat adalah kemampuan untuk mengolah kekayaan alam lokal. Proses pengolahan ini harus menghasilkan produk akhir yang memiliki nilai tambah ekonomi yang tinggi bagi negara.

Dalam konteks ini, hilirisasi sektor perikanan diangkat sebagai kunci utama strategi Indonesia menghadapi gejolak ekonomi dunia yang kian menguat. Langkah ini penting untuk mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga komoditas internasional.

"Situasi ini menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional tidak boleh lagi hanya bertumpu pada ekspor komoditas dalam bentuk bahan mentah," ujar seorang analis ekonomi, merujuk pada pelajaran dari perkembangan global terkini.

Lebih lanjut, penguatan ekonomi domestik melalui hilirisasi memastikan bahwa nilai tambah dari sumber daya perikanan dapat dinikmati secara maksimal di dalam negeri. Ini sekaligus menciptakan lapangan kerja yang lebih stabil dan berkualitas.

"Struktur [ekonomi] tersebut harus produktif, terdiversifikasi, dan memiliki kemampuan untuk mengolah kekayaan alam lokal menjadi produk akhir yang memiliki nilai tambah tinggi," tambah narasumber tersebut, menekankan pentingnya diversifikasi produk.

Dilansir dari BISNISMARKET.COM, penekanan pada produk olahan perikanan menunjukkan pergeseran fokus dari sekadar kuantitas ekspor bahan mentah menuju kualitas dan penguasaan pasar produk bernilai tambah.