BOGORPLUS.ID - Para petugas pengolah sampah yang bekerja di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu 3R (TPS3R) Negari Asri, yang berlokasi di Desa Negari, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali, kini menyuarakan kebutuhan mendesak akan kelengkapan Alat Pelindung Diri (APD) mereka. Permintaan ini disampaikan langsung kepada pemerintah daerah pada hari Selasa, 23 Juni 2026, mengingat pentingnya keselamatan kerja mereka sehari-hari.

Kondisi yang dihadapi para pekerja ini cukup memprihatinkan, di mana mereka selama ini harus mengeluarkan biaya pribadi untuk membeli perlengkapan dasar seperti masker dan sarung tangan. Hal ini terungkap setelah adanya observasi langsung di lokasi pengolahan sampah tersebut.

Salah satu petugas pengolah sampah, Made Suparniati, mengungkapkan bahwa masker yang ia gunakan saat ini sudah melalui proses pencucian berulang kali karena keterbatasan fasilitas. “Masker dan sarung tangan kami beli sendiri. Ini masker saya sudah cuci berkali-kali,” ungkap Made Suparniati, salah seorang petugas pengolah sampah di TPS3R Negari Asri, dilansir dari Detikcom.

Kebutuhan akan sarana penunjang keselamatan kerja ini dinilai sangat vital untuk menunjang kelancaran aktivitas pengolahan sampah yang mereka lakukan setiap hari. Mereka berharap pemerintah segera merespons kondisi ini demi kelancaran operasional dan kesehatan para pekerja.

Made Suparniati juga menambahkan bahwa pihak pengelola telah memberikan informasi mengenai rencana pengadaan alat pelindung diri yang dibutuhkan. “Ini kami berharap sekali kebutuhan masker dan sarung tangan bisa dibantu. Sudah kami sampaikan juga dan katanya memang akan ada pengadaan untuk itu,” jelas Made Suparniati.

Pekerja lainnya, Wayan Rimanta, mengeluhkan bahwa satu-satunya APD yang disediakan secara resmi oleh pihak pengelola hanyalah sepatu bot. Kondisi sarung tangan yang mereka gunakan saat ini sudah sangat rusak karena pemakaian intensif dan harus dicuci agar bisa dipakai kembali.

“Ini APD hanya sepatu. Kalau sarung tangan sampai rusak begini. Sampai rumah kami cuci biar bisa dipakai lagi,” terang Wayan Rimanta, rekan kerja Suparniati.

Sebelumnya, ketujuh petugas di fasilitas tersebut sempat melakukan aksi mogok kerja karena adanya penundaan pembayaran upah bulanan selama dua bulan berturut-turut tanpa kejelasan kapan akan dibayarkan. Kondisi ini menambah beban mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Petugas bernama Nyoman Suarjana menjelaskan bahwa upah harian mereka hanya sebesar Rp 50 ribu, yang jika diakumulasikan hanya mencapai sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Untuk menopang keluarga, sebagian petugas terpaksa mencari pekerjaan sampingan lain seperti menjadi ojek, petani, atau membuka usaha jualan. “Di sini hitungannya Rp 50 ribu per hari. Itu mengapa selain di sini kami ada yang bekerja jadi ojek, petani, dan ada yang sambil jualan. Kalau nggak begitu nggak cukup,” jelas Nyoman Suarjana.