BOGORPLUS.ID - Puluhan insiden kebakaran telah melanda Kota Makassar, Sulawesi Selatan, selama enam bulan pertama tahun 2026, mengakibatkan kerusakan signifikan pada banyak properti warga. Peristiwa tragis ini menunjukkan peningkatan risiko kebakaran di wilayah metropolitan tersebut.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Makassar mencatat total 86 kasus kebakaran terjadi hingga Kamis, 18 Juni 2026. Angka ini menunjukkan bahwa kasus kebakaran di Makassar cukup sering terjadi selama periode Januari hingga pertengahan Juni tahun tersebut.

Dilansir dari Detikcom, lonjakan kasus kebakaran tertinggi tercatat terjadi pada bulan April 2026, menandakan adanya periode puncak risiko yang perlu diwaspadai lebih lanjut oleh masyarakat dan pemerintah daerah.

Penyebab utama dari tingginya insiden kebakaran ini didominasi oleh masalah kelistrikan dan kebocoran gas. Secara rinci, korsleting listrik memicu 16 kejadian, sementara kebocoran tabung gas atau kompor menyumbang 13 kasus kebakaran.

Selain itu, pembakaran sampah alang-alang juga menjadi faktor penyumbang dengan catatan 7 kasus kebakaran yang terjadi. Sementara itu, sebanyak 51 kasus lainnya masih dalam proses investigasi untuk menentukan penyebab pastinya.

Dari segi properti yang terdampak, rumah tinggal menjadi objek yang paling sering dilalap api, dengan total 75 unit rumah hangus terbakar. Selain itu, tercatat juga 8 toko atau kafe, 2 industri perusahaan, 4 gudang, 1 hotel atau asrama, dan 3 kantor sekolah ikut menjadi korban amukan si jago merah.

Dampak dari rangkaian kejadian ini tidak hanya berupa kerugian materiil yang diperkirakan mencapai Rp 5.025.300.000 (sekitar Rp 5 miliar), tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Tercatat ada 1 orang meninggal dunia dan 6 orang lainnya mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.

Kabid Operasional Damkarmat Makassar, Andi Cakrawala, menjelaskan bahwa tingginya angka kebakaran selama enam bulan terakhir sangat dipengaruhi oleh kelalaian manusia serta kondisi lingkungan. "Untuk situasional kebakaran, saat ini kejadian kebakaran cukup banyak terjadi. hal ini tidak menutup kemungkinan akibat human error ataupun faktor cuaca panas yang cukup menyengat," kata Cakrawala dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).

Andi Cakrawala menambahkan bahwa mayoritas kebakaran di kawasan padat penduduk seringkali bermula dari ketidakhati-hatian warga dalam mengoperasikan alat elektronik. Ia juga menyoroti bahwa pemasangan jaringan listrik yang tidak standar dan kecerobohan saat memasak di area dapur menjadi poin krusial pemicu api.