BOGORPLUS.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis pembaruan prediksi mengenai puncak musim kemarau yang akan melanda wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) tahun 2026. Perubahan signifikan terjadi pada periode waktu puncak kekeringan yang diproyeksikan.

Menurut analisis terbaru, puncak musim kemarau di Sumsel diprediksi akan bergeser ke rentang waktu bulan Agustus hingga September 2026. Pergeseran ini merupakan revisi dari proyeksi awal yang sebelumnya mengindikasikan puncak kemarau akan terjadi pada periode Juli hingga Agustus.

Perubahan jadwal periode paling kering di Sumsel ini dipengaruhi secara langsung oleh perkembangan fenomena iklim global, khususnya El Nino. Fenomena El Nino ini dilaporkan baru mulai menunjukkan pembentukannya pada bulan Juni 2026.

Informasi mengenai pergeseran jadwal ini disampaikan langsung oleh pihak BMKG melalui keterangan resminya. "Iya mundur, update terbaru di Sumsel puncak kemarau terjadi pada Agustus ke September," ujar Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sumsel, Wandayantolis.

Wandayantolis menjelaskan bahwa dinamika atmosfer di Samudra Pasifik menjadi faktor utama yang memicu perubahan jadwal puncak kekeringan tersebut. "Iya, pergeseran puncak kemarau karena El Nino juga baru mulai terbentuk pada Juni ini," kata Wandayantolis.

Meskipun terjadi pergeseran waktu, BMKG memberikan gambaran bahwa intensitas kekeringan pada tahun ini diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem seperti yang pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Tingkat kekeringan tahun 2026 diprediksi berada di antara kondisi tahun-tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, Wandayantolis membandingkan proyeksi kekeringan tahun ini dengan data historis yang ada. "Prediksi sementara untuk tahun ini musim kemarau tidak sekering 2015, tapi lebih kering dari 2023. Termasuk pula jika dibandingkan dengan 2024 dan 2025, tahun ini lebih kering," ungkap Wandayantolis.

Sebagai perbandingan data, BMKG mencatat bahwa pada tahun 2015, Sumatra Selatan mencatat rekor sebanyak 27.043 titik panas (hotspot). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2023 yang terdeteksi sebanyak 20.547 titik panas.

BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak negatif yang ditimbulkan oleh musim kemarau yang akan datang ini. Peningkatan antisipasi diperlukan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).