bogorplus.id - Warga RW 07 Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor membangun sistem peringatan dini banjir atau Early Warning System (EWS) secara mandiri untuk mengantisipasi luapan Sungai Cisadane yang kerap mengancam permukiman mereka.

Alarm banjir manual itu dibuat swadaya oleh warga sebagai bentuk mitigasi bencana di kawasan bantaran sungai yang rawan banjir. 

Sistem tersebut bahkan sudah digunakan warga sejak 2016 setelah kawasan tersebut dilanda banjir besar dengan ketinggian air mencapai dua meter.

Ketua RW 07 Kelurahan Panaragan, Dede Suparman mengatakan, keberadaan alarm sangat penting karena jarak permukiman warga dengan Sungai Cisadane sangat dekat.

“Karena pemukimannya dekat sekali dengan Sungai Cisadane, jadi alarm ini memang diperlukan. Saat alarm dibunyikan, warga sudah paham artinya air naik dan mereka harus siap-siap, entah berjaga ataupun bersiap evakuasi diri,” ujar Dede, Rabu (20/5/2026).

Dede menjelaskan, sistem EWS tersebut masih bekerja secara manual dengan pemantauan langsung oleh warga secara bergantian, terutama saat hujan deras mengguyur hingga malam hari.

Warga memasang tiang pengukur debit air setinggi sekitar tiga meter di tepi sungai menuju kawasan permukiman. Ketika permukaan air mencapai 120 sentimeter, alarm akan dibunyikan sebagai tanda warga harus bersiaga menghadapi potensi banjir.

Selain itu, tombol alarm juga ditempatkan di rumah Ketua RW yang berada dekat bantaran sungai agar mudah diakses saat kondisi darurat.

“Kalau hujan deras, apalagi malam hari, biasanya saya berjaga untuk memantau kondisi air. Kalau saya sedang tidak ada, biasanya keluarga atau warga sekitar yang gantian memantau karena warga sudah paham daerah sini rawan banjir,” katanya.