BOGORPLUS.ID - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama lembaga pemantau cuaca global telah merilis data mengenai kondisi atmosfer Kota Surabaya pada Selasa, 23 Juni 2026. Kota Pahlawan hari itu didominasi oleh cuaca yang sangat terik, disertai dengan indeks panas yang tinggi dan kualitas udara yang dikategorikan tidak sehat.

Kondisi cuaca ekstrem ini menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh warga Surabaya, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas rutin di luar ruangan sepanjang hari tersebut. Tingkat kenyamanan termal yang dirasakan di tempat teduh, atau RealFeel Shade™, menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, mulai dari 88° hingga mencapai puncaknya di 97° Fahrenheit.

Dampak langsung dari teriknya matahari terlihat dari Indeks UV maksimum yang tercatat mengalami lonjakan signifikan, bergerak dari level rendah menuju kategori yang berisiko tinggi bagi kesehatan kulit jika terpapar tanpa proteksi memadai. Hal ini menggarisbawahi pentingnya penggunaan tabir surya bagi masyarakat.

Analisis data dari AccuWeather menunjukkan adanya dinamika yang cukup ekstrem pada indikator cuaca di Surabaya, khususnya pada fluktuasi indeks panas yang mencapai variasi terendah 80° hingga tertinggi 103° Fahrenheit sepanjang hari. Kombinasi panas terik dan kelembapan yang berubah-ubah ini menambah ketidaknyamanan termal bagi penduduk.

Tingkat kelembapan udara di Surabaya menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis, sementara titik embun tercatat relatif stabil pada rentang 75° F hingga 78° F. Dikutip dari sumber berita, "Kombinasi dari titik embun yang tinggi dan kelembapan yang fluktuatif ini membuat udara terasa makin gerah bagi warga setempat."

Meskipun kondisi panas mendominasi, langit Surabaya masih menampilkan variasi tutupan awan yang cukup signifikan, mulai dari persentase sangat tipis 2% hingga cukup tebal mencapai 70%. Ketinggian awan terdeteksi berada pada posisi 7.000 ft dan 30.000 ft, dengan jarak pandang yang bervariasi antara 1.01 mil hingga 5 mil.

Pergerakan angin di kota tersebut didominasi dari arah Tenggara (TTG) dengan kecepatan bervariasi dari 5 mph hingga 12 mph, meskipun ada juga embusan dari Timur (T) dan Timur Timur Laut (TTL). Selain itu, petugas juga mencatat adanya potensi angin kencang yang mencapai kecepatan tertinggi 20 mph di beberapa kawasan fungsional kota.

Faktor yang paling mengkhawatirkan adalah kualitas udara yang berada dalam kondisi kurang baik bagi kesehatan publik. Berdasarkan parameter lingkungan, kualitas udara Surabaya dikategorikan ke tingkat "Tidak Sehat" hingga "Buruk," sehingga masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan atau wajib menggunakan masker pelindung.

Dikutip dari sumber berita, "Terlepas dari adanya embusan angin tersebut, kualitas udara di Surabaya hari ini berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan bagi kesehatan masyarakat." Meskipun demikian, instrumen meteorologi sempat mendeteksi curah hujan yang sangat tipis (0.01 in hingga 0.03 in) di beberapa titik lokal, namun belum mampu menurunkan suhu kota secara signifikan.