bogorplus.id – Rencana Pemerintah Kota Bogor untuk menghapus operasional angkutan kota (angkot) yang berusia di atas 20 tahun menuai tanggapan dari para sopir.

Meskipun tidak menolak upaya penataan transportasi tersebut, para sopir mendesak pemerintah menyiapkan solusi konkret, terutama mengenai penggantian armada dan jaminan keberlangsungan pekerjaan bagi mereka yang terdampak.

Salah satu perwakilan sopir, Medi (68), yang telah mengemudi angkot trayek 03 rute Terminal Baranangsiang-Terminal Bubulak sejak 1973, menekankan pentingnya kompensasi.

Medi menyatakan bahwa kendaraan yang ia gunakan saat ini sudah melebihi batas usia operasional yang ditetapkan.

"Kalau memang mau dihapus, silakan saja, kami para sopir dan pemilik angkot juga mengerti, tapi ya tetap harus ada penggantian. Ini kan mobil dibeli pakai uang, jadi coba lah ada kompensasinya sedikit dari pemerintah," ujar Medi saat ditemui di kawasan Alun-Alun Bogor, Kamis (18/6/2026).

Medi, yang telah menggantungkan hidup dari sektor angkutan umum selama lebih dari lima dekade, khawatir akan nasibnya jika penghapusan dilakukan tanpa skema penggantian yang memadai. Ia menyoroti bahwa harga kendaraan baru saat ini sangat tinggi.

"Harga kendaraan sekarang juga kan tidak murah, cari pekerjaan pengganti juga susah. Ini saya juga cari nafkah bergantung dari sini," tambahnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya menarik kendaraan tua, tetapi juga memberikan bantuan dana signifikan bagi pemilik armada.

Medi mengusulkan kompensasi minimal setengah dari harga kendaraan baru. "Kalau misalnya harga mobil Rp100 juta, ya minimal dibantu setengahnya lah, Rp50 juta atau Rp60 juta. Jadi ada solusi buat pengusaha dan sopir juga. Jangan cuma dihapus begitu saja," katanya.