bogorplus.id – Penurunan jumlah penumpang angkutan kota (angkot) di Kota Bogor semakin terasa signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun harus bersaing ketat dengan transportasi berbasis aplikasi, para sopir meyakini angkot masih memegang peranan penting bagi mobilitas warga, khususnya mereka yang tinggal di wilayah pinggiran dengan keterbatasan akses.

Medi (68), seorang sopir angkot trayek 03 rute Terminal Baranangsiang-Terminal Bubulak, mengungkapkan bahwa penurunan penumpang mulai terasa sejak sekitar tahun 2015.

Ia menilai banyak warga kini beralih ke layanan ojek daring (online) maupun taksi daring karena dianggap menawarkan kenyamanan lebih.

"Kalau empat sampai lima orang sekarang pasti pesan GrabCar. Mereka bilang lebih nyaman, mobilnya enak, enggak kena pengamen juga, kalau angkot kan ngetem yaa," ujar Medi saat ditemui di Alun-Alun Kota Bogor, Kamis (18/6/2026).

Medi, yang telah menjadi sopir sejak 1973, membandingkan kondisi saat ini dengan era 1990-an hingga awal 2000-an ketika angkot menjadi primadona transportasi publik.

Kini, sulitnya mencari penumpang membuat pendapatannya tidak menentu, berkisar antara Rp70.000 hingga Rp100.000 per hari.

Jumlah ini dirasa kian sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Meski demikian, Medi menegaskan bahwa angkot masih menjadi tulang punggung transportasi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.