BOGORPLUS.ID - Antusiasme tinggi menyambut perhelatan akbar Piala Dunia 2026 mulai terasa di pesisir Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Pasuruan. Para nelayan di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, secara kolektif mengubah kawasan pemukiman mereka menjadi sebuah "Kampung Gila Bola".

Aksi unik ini terwujud pada Senin (8/6/2026) ketika ratusan bendera negara-negara yang berpartisipasi dalam turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut mulai dikibarkan. Bendera-bendera ini menghiasi area dermaga desa yang biasanya dipenuhi oleh perahu-perahu nelayan.

Bendera-bendera yang dipasang memiliki dimensi yang sangat mencolok, yakni dengan ukuran rata-rata mencapai 7 kali 5 meter. Untuk mengibarkan bendera raksasa tersebut, warga secara khusus menyiapkan tiang-tiang bambu berukuran besar dan tinggi.

Pemandangan semarak ini diciptakan murni melalui inisiatif dan pendanaan swadaya dari masyarakat setempat. Setiap nelayan secara sukarela membeli bendera negara yang mereka anggap sebagai tim unggulan dalam kompetisi sepak bola global tersebut.

Salah satu warga, Samian, mengungkapkan dukungannya secara terbuka melalui bendera yang ia pasang di tepi laut. "Saya pasang bendera Spanyol. Saya dukung Spanyol juara piala dunia tahun ini," ujar Samian.

Selain di area dermaga, pemasangan atribut sepak bola ini juga meluas ke rumah-rumah penduduk, meskipun dengan ukuran bendera yang lebih kecil. Hal ini menunjukkan betapa masifnya euforia yang melanda komunitas nelayan tersebut.

Menurut Sekretaris Desa Gerongan, Hasani, tradisi menyemarakkan kampung menjelang kompetisi sepak bola internasional telah berlangsung selama bertahun-tahun. "Sudah bertahun-tahun, seperti tradisi. Sebelum pandemi COVID malah makin heboh," ujar Hasani.

Dikutip dari Detikcom, seluruh bendera raksasa tersebut direncanakan akan terus berkibar sepanjang durasi turnamen berlangsung. Warga berkomitmen untuk menurunkannya secara bertahap.

Penurunan bendera ini akan dilakukan secara sukarela, hanya dilakukan ketika negara jagoan mereka telah tersingkir dari kompetisi, hingga akhirnya hanya menyisakan bendera sang juara di akhir perhelatan.