bogorplus.id – Jumlah pasien gagal ginjal kronis yang harus menjalani cuci darah di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Data BPJS Kesehatan mencatat, sepanjang 2024 terdapat 134.057 pasien yang rutin menjalani hemodialisa.

Angka ini diyakini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil, mengingat masih banyak penderita gagal ginjal yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Kementerian Kesehatan mengungkapkan, lonjakan kasus gagal ginjal kronis erat kaitannya dengan penyakit tidak menular yang tidak tertangani secara optimal.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, menyebut hipertensi dan diabetes melitus sebagai pemicu utama, disusul faktor infeksi dan genetik.

“Banyak penderita penyakit ginjal kronis berawal dari hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol. Karena itu, deteksi dini menjadi sangat penting,” ujar Nadia dilangsir Republika, Kamis (5/2/2026).

Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes mendorong masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, khususnya bagi kelompok berisiko dan mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ginjal.

Pemerintah juga telah menggulirkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi gangguan ginjal sejak tahap awal.

“Melalui program CKG, masyarakat bisa mengetahui faktor risiko penyakit ginjal lebih awal. Jika sudah terdiagnosis hipertensi atau diabetes, pengobatan harus dijalani secara teratur,” jelas Nadia.

Selain pemeriksaan medis, Kemenkes turut menekankan pentingnya perubahan gaya hidup. Masyarakat diimbau mencukupi asupan cairan dengan minum air putih minimal delapan gelas per hari serta membatasi konsumsi minuman bersoda dan berpemanis. Penanganan medis juga diminta tidak ditunda.