BOGORPLUS.ID - Fenomena kebakaran aneh yang terjadi secara berulang di kediaman Mutfia di Seyegan, Sleman, kini menjadi fokus penelitian serius oleh tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Investigasi ini bertujuan untuk mengungkap asal muasal gas yang diduga kuat menjadi pemicu kejadian tak wajar tersebut.

Peristiwa kebakaran yang terjadi secara spontan ini dilaporkan telah berlangsung sejak Sabtu (23/5) silam. Selama kurun waktu lebih dari dua minggu, api dilaporkan telah berkobar ratusan kali, bahkan mulai merembet ke properti milik tetangga sekitar.

Hipotesis mengenai keberadaan gas bawah tanah yang berasal dari endapan bekas rawa di area tersebut pertama kali dicetuskan oleh tim peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta. Temuan awal geologi tersebut mendorong tim dari UGM untuk melakukan validasi lapangan.

Tim peneliti dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, segera turun tangan untuk mengumpulkan data yang lebih spesifik di lokasi kejadian. Mereka menggunakan metode pengukuran geolistrik yang berbeda dibandingkan studi sebelumnya.

Saptono Budi Samodra, salah satu peneliti dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi UGM, menjelaskan perbedaan pendekatan metode yang mereka lakukan saat survei pada Selasa (9/6/2026) di Seyegan.

"Kalau kemarin teman-teman UPN itu melakukan geolistrik dua dimensi dengan spasi yang cukup lebar sehingga mengejar kedalaman. Kami melakukan secara lebih pendek spasinya, hanya 1 meteran, di sekitar rumah dengan maksud untuk mengejar variasi yang lebih detail di sekitar rumah itu ada variasi apa saja," kata Saptono kepada wartawan di Seyegan, Selasa (9/6/2026).

Tim UGM kini tengah berupaya melakukan survei geolistrik yang lebih ekstensif untuk melengkapi data yang sudah dihimpun oleh tim UPN sebelumnya mengenai potensi gas di bawah permukaan tanah.

Rencananya, hasil temuan di lapangan tersebut akan dimodelkan dan dianalisis menggunakan metode geolistrik satu dimensi untuk memetakan struktur lapisan tanah di area tersebut secara lebih akurat.

Saptono menambahkan bahwa keberadaan retakan di lapisan tanah menjadi fokus penting dalam analisis mereka terkait aliran gas yang mungkin terjadi.