bogorplus.id - Orang-orang datang ke Bukit Cirimpak untuk mencari pemandangan. Saya datang karena hal yang lebih sederhana kepala yang terlalu penuh.
Seminggu terakhir terasa panjang. Notifikasi tak berhenti, pekerjaan menumpuk, dan waktu istirahat habis untuk menatap layar. Bahkan di rumah, rasanya tetap bising.
Sabtu pagi itu, saya dan beberapa teman sepakat pergi. Bukan untuk liburan panjang kami hanya ingin menjauh sebentar.
Dari Kota Bogor, kami mengambil jalur menuju kawasan Puncak, lalu berbelok ke arah Curug Panjang, Megamendung. Perjalanan sekitar satu jam menggunakan sepeda motor.
Jalanan awal masih ramai kendaraan, lalu perlahan menyempit. Aspal mulai bergelombang di beberapa titik, tanjakan terasa lebih panjang, dan pepohonan di kiri kanan jalan semakin rapat. Udara berubah lebih dingin, lebih lembap.
“Udah dekat belum?” salah satu teman bertanya di tengah jalan menanjak.
Tak ada yang benar-benar tahu pasti, selain mengikuti petunjuk arah dan sesekali bertanya ke warga.
Gerbang Bukit Cirimpak muncul tanpa kesan mencolok. Hanya papan sederhana, beberapa motor terparkir, dan warung kecil di sisi jalan. Tidak ada baliho besar atau promosi berlebihan.
Di loket, Ria menyambut sambil merapikan catatan pengunjung. Sudah setahun ia bekerja di sana senagai penjaga loket karcis.

