BOGORPLUS.ID - Warga dan pemuda di wilayah perbatasan Apokayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menyatakan rencana untuk menggelar unjuk rasa besar-besaran pada hari Senin, 22 Juni 2026. Aksi ini dipicu oleh kondisi jalan trans-nasional yang mengalami kerusakan sangat parah dan mengganggu mobilitas warga.
Pemicu utama aksi protes ini adalah pengalaman pahit rombongan jemaat yang kesulitan menarik mobil mereka yang terjebak dalam kubangan lumpur saat hendak menghadiri Konferensi Wilayah IV Gereja Kemah Injil Indonesia. Kejadian ini terekam dalam sebuah video amatir yang menunjukkan perjuangan belasan pemuda di jalur darat utama tersebut.
Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan di perbatasan RI-Malaysia tersebut dinilai telah menghambat aktivitas penting masyarakat, termasuk kegiatan keagamaan dan kebutuhan sehari-hari. Hal ini mendorong kekecewaan mendalam dari tokoh masyarakat setempat.
Ketua Gerakan Peduli Pemuda Perbatasan Apau Kayan (GPPPAK), Rum Tingai, mengungkapkan rasa kecewanya atas minimnya tindak lanjut dari koordinasi lintas instansi yang telah dilakukan jauh hari sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa berbagai pihak telah diundang untuk rapat koordinasi sebulan sebelum acara.
"Sebulan sebelum kegiatan, kita sudah mengadakan rapat koordinasi. Kita mengundang Perusahaan, instansi terkait, hingga pihak kecamatan. Kita sudah serahkan daftar titik yang harus segera diperbaiki sebelum konferensi. Tapi nyatanya saat rombongan berangkat, jalan dan jembatan masih tidak bisa dilewati," tegas Rum Tingai.
Rum Tingai menekankan bahwa tuntutan masyarakat sebenarnya sederhana, yaitu perbaikan fasilitas dasar agar jalur darat tetap dapat dilalui, bukan pembangunan jalan aspal yang mewah. Mereka hanya mengharapkan jembatan bisa dilewati dan kubangan lumpur dapat dilalui dengan upaya minimal.
"Yang kita minta itu jembatan bisa diseberangi, kubangan bisa lewat. Kalau jembatan rusak, tidak bisa dicangkul. Kalau hanya kubangan mungkin masih bisa ditarik," imbuh Rum Tingai.
Karena peringatan yang disampaikan sebelumnya dinilai tidak mendapatkan respons serius dari pihak yang berwenang, GPPPAK mengancam akan memobilisasi massa di titik-titik kerusakan terparah saat rombongan jemaat kembali dari Sungai Bo.
"Saya ingatkan, kalau tidak ada tindak lanjut, kami akan mengadakan aksi di sana. Saya akan bawa pemuda dan rombongan. Kami kelaporkan dan adakan aksi demonstrasi di tempat kejadian saat jemaat pulang nanti. Ini karena beberapa kali kita ingatkan masih tidak mempan," beber Rum Tingai.






.png)