BOGORPLUS.ID - Kekhawatiran mendalam menyelimuti komunitas nelayan dan aktivis konservasi di Pangandaran setelah insiden karamnya kapal yang menumpahkan sekitar 8.000 ton batu bara sepekan lalu. Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) bersama pegiat konservasi penyu mendatangi kantor DPRD Pangandaran untuk menuntut pertanggungjawaban pemilik kapal terkait musibah ini.
Pertemuan audiensi tersebut, yang berlangsung hampir tiga jam, turut dihadiri oleh Ketua DPRD Pangandaran Asep Noordin, Plt Sekretaris Daerah Agus Nurdin, perwakilan perusahaan, Syahbandar, serta pihak Polres Pangandaran. Massa mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) untuk segera mempercepat proses penanganan limbah batu bara yang mencemari perairan setempat.
Salah satu tuntutan utama dari perwakilan masyarakat adalah penghentian sementara aktivitas nelayan tangkap di sekitar lokasi kejadian. Langkah preventif ini dianggap perlu untuk memitigasi risiko nelayan menangkap ikan yang mungkin sudah terkontaminasi oleh zat berbahaya dari material batu bara tersebut.
Ketua HNSI Pangandaran, Jeje Wiradinata, menyuarakan kekhawatiran serius mengenai potensi pencemaran Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), khususnya logam berat seperti arsenik dan merkuri, di area tangkap nelayan. Pemda didesak agar segera mengeluarkan maklumat resmi berupa larangan total aktivitas penangkapan dan konsumsi ikan di wilayah yang terdampak langsung.
"Logam berat itu tidak akan terurai. Ketika dimakan ikan, lalu dimakan manusia, itu akan menjadi bahaya yang luar biasa. Saya mohon pemerintah daerah mengeluarkan larangan hari ini, tidak boleh ada aktivitas penangkapan ikan di situ sampai keluar hasil rekomendasi 14 hari dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi," tegas Jeje Wiradinata.
Nelayan harian yang mayoritas beroperasi dekat pantai (2-3 mil) juga menuntut kompensasi ekonomi selama masa pelarangan melaut diberlakukan. Pihak masyarakat menolak keras argumen bahwa faktor alam atau gelombang menjadi penyebab utama kecelakaan kapal tersebut.
"Kalau alasan gelombang, harusnya seluruh kapal yang melayar hari itu juga kena kecelakaan. Ini pasti faktor internal, kelaikan tongkang. Makanya ke depan, saya mohon kepada syahbandar, kapal yang lewat perairan Pangandaran jangan cuma diperiksa dokumen kertasnya, tapi lihat fisiknya," ungkap Jeje Wiradinata.
Aktivis lingkungan dan penggiat konservasi penyu, Ai Giwang Sari, menyoroti bahwa lokasi karam kapal merupakan area utama pendaratan penyu untuk bertelur, yang biasanya berlangsung dari Mei hingga Desember. Tumpahan batu bara yang mengandung senyawa asam dan logam berat dikhawatirkan merembes ke pasir pantai dan mengancam telur penyu.
"Logam berat dan senyawa asam dari batubara berisiko tinggi merusak area penangkaran alami. Efek buruknya, telur-telur penyu yang berada di sepanjang pesisir dipastikan akan gagal menetas menjadi tukik," ujar Ai Giwang Sari.






.png)