BOGORPLUS.ID - Produsen otomotif global, General Motors (GM), baru-baru ini melakukan langkah signifikan dalam modernisasi operasional pabrik mereka di Amerika Serikat. Langkah ini berupa penambahan armada robot kolaboratif (cobot) baru di fasilitas Factory Zero.
Penambahan sekitar 50 unit robot baru tersebut dilaksanakan hanya beberapa pekan setelah manajemen GM mengambil keputusan sulit untuk merumahkan lebih dari 1.000 pekerjanya di fasilitas yang sama. Keputusan ini menjadi sorotan publik dan memicu reaksi dari berbagai pihak.
Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 19 Juni 2026, sebagaimana dikabarkan oleh media nasional. Pabrik Factory Zero menjadi lokasi utama penerapan teknologi otomasi terbaru ini dalam lini produksi kendaraan listrik yang sedang dikembangkan oleh GM.
Implementasi teknologi baru ini segera memicu gelombang protes dan kekhawatiran dari serikat pekerja United Auto Workers (UAW). Kekhawatiran utama mereka berkisar pada potensi pengurangan lebih lanjut tenaga kerja manusia dan isu keselamatan di lingkungan kerja.
Presiden UAW Local 22, James Cotton, menjelaskan bahwa robot-robot baru buatan Fanuc tersebut dirancang untuk membantu pekerja manusia dalam proses pemasangan komponen kendaraan. Menurut penilaiannya, mesin-mesin ini diharapkan dapat meringankan beban kerja fisik karyawan yang tersisa.
"Selalu ada kekhawatiran ketika robot masuk ke pabrik, terutama setelah lebih dari seribu pekerja dirumahkan," ujar James Cotton, Presiden UAW Local 22.
Pihak serikat pekerja telah secara resmi menyampaikan keberatan mereka kepada manajemen perusahaan mengenai tingkat kedekatan operasional mesin baru tersebut dengan area gerak para pekerja yang masih bertugas.
Sementara itu, pihak korporasi General Motors menegaskan bahwa penambahan teknologi ini merupakan bagian integral dari upaya modernisasi dan peningkatan efisiensi pabrik. Mereka menekankan bahwa tujuan utamanya adalah mempertahankan daya saing perusahaan.
Juru bicara perusahaan menyatakan bahwa adopsi teknologi ini ditujukan untuk mengoptimalkan aspek perlindungan kerja dan ergonomi bagi para staf. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap penurunan permintaan pasar untuk mobil listrik di wilayah tersebut, yang sebelumnya memaksa PHK berkala.






.png)