BOGORPLUS.ID - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memberikan klarifikasi resmi terkait ramainya narasi di media sosial yang mengaitkan gempa bumi di Palu dengan potensi munculnya gempa sesar darat di Bojonegoro, Jawa Timur. Pernyataan ini diterbitkan untuk menenangkan kekhawatiran publik yang mulai menyebar luas pasca-kejadian seismik tersebut.
Kekhawatiran publik ini bermula dari unggahan seorang akun di platform Threads, yang memperingatkan warga Bojonegoro, Pandeglang, Padang Pariaman, dan Simeulue untuk waspada. Akun tersebut mengklaim adanya potensi gempa skala 6 hingga 8 akibat akumulasi tekanan lempeng bumi yang mencapai 1.200 bar.
Pakar Geologi ITS, Dr Ir Amien Widodo, selaku Peneliti Senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, langsung menanggapi isu tersebut. Beliau secara tegas membantah adanya kaitan langsung antara gempa Palu dengan ancaman sesar darat di Bojonegoro.
"Kalau Bojonegoro enggak ada (sesar) malah," ungkap Amien Widodo, menekankan bahwa secara administratif, Kabupaten Bojonegoro tidak dilewati oleh jalur sesar aktif.
Meskipun demikian, Dr. Amien menjelaskan bahwa wilayah Bojonegoro tetap berpotensi merasakan getaran dari sesar yang berada di sekitarnya. Sesar yang dimaksud adalah Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS) yang membentang di sisi utara kawasan tersebut.
"Cuma yang agak di sebelah utaranya tadi, ada namanya sesar Rembang, Madura, Kangean ada namanya RMKS. Nah, itu memang melewati sebagian di Madura. Madura itu dilewati sesar tadi dua, kiri dan kanan," jelas Amien Widodo. Menurutnya, dampak getaran dari sesar di wilayah Tuban tersebut masih mungkin dirasakan oleh Bojonegoro.
Catatan historis geologi menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di daratan Bojonegoro sendiri tergolong sangat jarang terjadi. Kejadian gempa di wilayah tersebut tercatat sangat minim, yang mengindikasikan stabilitas seismik relatif tinggi di titik tersebut.
"Memang dulu ada gempa kecil sekali di Bojonegoro. Sebenarnya tepatnya ya di depan, di sekitar Tuban juga sih. Antara perbatasan dengan Tuban sekitar M 4 atau berapa, sudah lama tapi," tutur Amien Widodo merujuk pada catatan sejarah gempa kecil di masa lalu.
Amien Widodo menegaskan bahwa sebuah pergeseran lempeng baru bisa disebut sebagai ancaman serius jika terjadi pengulangan gempa dengan intensitas tinggi di lokasi yang sama secara sering. Beliau menekankan pentingnya data resmi untuk membuat kesimpulan ilmiah mengenai pergeseran lempeng.






.png)