BOGORPLUS.ID - Kabar duka menyelimuti dunia konservasi satwa di Lampung Timur menyusul wafatnya seekor Gajah Sumatra jantan jinak bernama Indra. Gajah yang telah puluhan tahun mengabdi dalam upaya pelestarian satwa liar ini menghembuskan napas terakhirnya di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Kematian gajah binaan yang telah lama dikenal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi. Informasi ini menjadi penutup babak penting dalam sejarah panjang upaya perlindungan Gajah Sumatra di wilayah Lampung.
Indra diketahui telah mencapai usia 42 tahun saat meninggal dunia, meninggalkan jejak kontribusi signifikan dalam program konservasi. "Indra telah memberikan kontribusi besar dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi kami," ujar Zaidi, seperti dilansir dari Detikcom saat memberikan keterangan pada Rabu (24/6/2026).
Peristiwa tragis ini bermula pada Minggu sore, 21 Juni 2026, ketika Indra tengah menjalani rutinitas mandi di area rawa dalam kawasan TNWK. Setelah menyelesaikan aktivitas tersebut, nasib malang menimpanya saat hendak kembali ke kandang.
Saat hendak beranjak, mamalia besar tersebut dilaporkan mendadak ambruk dan tidak mampu lagi untuk berdiri. Mahout pendamping dan tim penyelamat segera bergerak cepat untuk memberikan pertolongan awal kepada gajah yang kesayangan tersebut.
Proses evakuasi melibatkan upaya keras, termasuk bantuan dari beberapa gajah jinak lain yang berada di lokasi konservasi. Meskipun sempat berhasil diposisikan duduk, kondisi Indra yang melemah membuat upaya penyelamatan mengalami hambatan signifikan.
"Indra sempat berhasil diposisikan duduk, tetapi tak lama kemudian kembali rebah karena kondisi tubuhnya yang sudah sangat lemah," jelas Zaidi mengenai kondisi kritis satwa tersebut. Karena lokasi kejadian berada di area rawa yang sulit dijangkau, tim dokter hewan segera memberikan penanganan darurat di tempat.
Setelah perjuangan tim medis selama lebih dari 20 jam, Indra akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Senin (22/6) pukul 11.06 WIB. Pihak Balai TNWK segera menindaklanjuti dengan melakukan nekropsi atau bedah bangkai untuk mengetahui penyebab pasti kematian satwa tersebut.
Pemeriksaan medis dilakukan secara intensif oleh tim veteriner TNWK dan turut disaksikan oleh jajaran aparat kepolisian, personel TNI, serta petugas Polisi Kehutanan. Beberapa sampel organ penting telah diamankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.






.png)