BOGORPLUS.ID - Kondisi penerbangan di Nusa Tenggara Timur mengalami disrupsi signifikan menyusul serangkaian erupsi gunung api yang terjadi pada hari yang sama. Aktivitas vulkanik yang meningkat tajam ini langsung memicu penutupan fasilitas transportasi udara vital di wilayah tersebut.

Peristiwa alam yang mengguncang stabilitas wilayah ini melibatkan dua gunung berapi aktif, yakni Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur dan Gunung Ile Lewotolok yang berada di Lembata. Kedua gunung tersebut mengeluarkan material vulkanik hanya dalam rentang waktu kurang dari satu jam.

Dampak langsung dari rangkaian erupsi ini adalah penghentian operasional sementara di Bandara Frans Seda Maumere yang berlokasi di Kabupaten Sikka. Keputusan ini diambil sebagai langkah preventif demi menjamin keselamatan penumpang dan kru pesawat.

Kepala Bandara Frans Seda Maumere, Partahian Panjaitan, secara resmi mengonfirmasi situasi darurat yang memaksa penutupan fasilitas tersebut. Penutupan ini dipicu oleh material abu vulkanik yang terbawa angin dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

"Hari ini 22 Juni 2026 operasi penerbangan di Bandara Frans Seda Maumere ditutup sementara sampai besok pukul 06.00 Wita," kata Partahian.

Kebijakan penutupan ini berimplikasi langsung pada pembatalan sejumlah jadwal penerbangan yang telah direncanakan sebelumnya. Sebanyak enam rute penerbangan yang biasanya menghubungkan Kupang dan Labuan Bajo terpaksa harus dibatalkan keberangkatannya.

Rincian penerbangan yang batal meliputi Wings Air Maumere-Kupang, Kupang-Maumere, Maumere-Labuan Bajo, Labuan Bajo-Maumere, serta dua rute Nam Air yakni Kupang-Maumere dan Maumere-Kupang, sebagaimana disampaikan oleh Partahian.

Meskipun ada penutupan di Maumere, mobilitas udara di wilayah NTT tidak sepenuhnya lumpuh karena tiga bandara lain dilaporkan masih dapat beroperasi secara normal. Fasilitas yang aman dari sebaran abu vulkanik tersebut adalah Bandara Wunopito Lewoleba di Lembata dan Bandara Gewayantana Larantuka.

Kondisi operasional yang tetap berjalan juga terpantau di Bandara H Aroeboesman Ende, di mana maskapai masih dapat melayani penumpang sesuai jadwal. Hal ini terjadi karena arah angin tidak membawa debu vulkanik dari Gunung Lewotobi Laki-laki menuju wilayah Ende.