BOGORPLUS.ID - Titik krusial pada tanggul penahan lumpur Lapindo di Sidoarjo, tepatnya di titik 68, dilaporkan mengalami peningkatan volume rembesan air yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kejadian ini terjadi di area perbatasan antara Kecamatan Porong dan Kecamatan Tanggulangin, memicu kewaspadaan baru bagi masyarakat sekitar.

Peristiwa peningkatan debit air yang keluar dari dinding pembatas tersebut mulai menjadi perhatian serius pada hari Minggu, 21 Juni 2026. Fenomena ini menunjukkan adanya potensi tekanan air yang semakin besar di balik struktur penahan lumpur yang vital tersebut.

Aliran air yang keluar dari tanggul kini terpantau mengalir cukup deras menuju sungai kecil yang berada di area bawah struktur penahan. Kondisi ini berbeda dari sebelumnya, di mana rembesan hanya terlihat dalam bentuk basah pada permukaan tanah di bagian bawah tanggul.

Upaya mitigasi telah dilakukan oleh Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) dengan memasang gorong-gorong drainase untuk menekan volume air di kolam penampungan. Meskipun demikian, intensitas rembesan yang terus membesar menunjukkan bahwa solusi darurat tersebut belum sepenuhnya efektif menahan tekanan.

Sukadi, seorang warga dari Dusun Pologunting, Desa Gempolsari, menyatakan bahwa ia secara langsung menyaksikan perubahan signifikan pada kekuatan arus rembesan di lokasi kejadian.

"Kalau dilihat sekarang rembesannya semakin besar. Dulu hanya basah di bagian bawah tanggul, sekarang airnya sudah mengalir cukup deras ke sungai kecil," kata Sukadi.

Kekhawatiran warga semakin meningkat karena struktur di titik 68 ini memiliki sejarah kelam, pernah mengalami kerusakan parah hingga jebol pada tahun 2009. Peristiwa masa lalu tersebut menyebabkan evakuasi warga dari dua desa yang terdampak langsung oleh luapan lumpur.

"Dulu sekitar tahun 2009 tanggul ini pernah jebol. Waktu itu banyak warga dari dua desa yang harus mengungsi. Makanya sekarang kalau melihat rembesan seperti ini warga menjadi was-was," ujar Sukadi lebih lanjut.

Meskipun struktur tanggul di titik tersebut telah diperkuat menggunakan bronjong kawat pasca insiden kedaruratan di masa lalu, munculnya rembesan yang konstan tetap menjadi sumber kecemasan bagi warga yang bermukim di zona bawah tanggul.