bogorplus.id - Di sebuah lapangan sederhana di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, seorang bocah yang dulu hanya “coba-coba” berdiri di bawah mistar kini bersiap membawa Merah Putih ke panggung dunia. Namanya Muhammad Rifki Fitri Hata.
Usianya baru 18 tahun, tetapi langkahnya sudah menembus skuad Timnas FA7 Indonesia untuk ajang World Championship 2026 di Honduras, 27–31 Mei mendatang.
Perjalanan Rifki bukan kisah instan yang lahir dari sorotan kamera atau akademi elite. Semua bermula sejak ia duduk di bangku kelas IV sekolah dasar.
Seperti banyak anak lain, ia datang ke sekolah sepak bola dengan mimpi sederhana yakni bermain bola dan menikmati permainan. Namun takdirnya berubah justru karena sebuah kebetulan kecil.
Saat sesi latihan berlangsung, kiper utama di timnya tidak hadir. Rifki yang kala itu belum pernah serius menjaga gawang, memberanikan diri mengisi posisi kosong tersebut.
Tidak ada rencana besar, apalagi ambisi menjadi penjaga gawang nasional. Tetapi dari momen spontan itulah, pelatih melihat sesuatu yang berbeda.
“Jadi saya coba-coba jadi kiper, dilihat pelatih mungkin bagus, akhirnya saya bisa sampai sekarang,” ujar Rifki saat ditemui Bogorplus.id di Stadion Gelora Pakansari, Cibining, Jumat (22/5/2026).
Sejak saat itu, sarung tangan kiper seolah menjadi bagian dari hidupnya. Latihan demi latihan dilalui, jatuh bangun di bawah mistar dijadikan pelajaran.
Di usia remaja, Rifki mulai memahami bahwa menjadi penjaga gawang bukan sekadar menangkap bola, tetapi soal keberanian mengambil tanggung jawab saat seluruh tim menggantungkan harapan.

