BOGORPLUS.ID - Sebanyak 720 pelajar dan tenaga pendidik di Kota Malang harus menelan pil pahit karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti beroperasi mulai Senin, 8 Juni 2026. Penghentian ini terjadi karena adanya kendala pencairan dana yang berdampak pada operasional dapur umum.

Dampak langsung dari penundaan ini dirasakan oleh sedikitnya 70 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terpaksa menghentikan sementara distribusi makanan bergizi tersebut. Kondisi ini dikonfirmasi berdasarkan informasi yang beredar luas di kalangan penerima manfaat.

Salah satu institusi pendidikan yang merasakan dampak langsung adalah SD Islamic Global School di Kecamatan Sukun. Pihak sekolah telah menerima pemberitahuan resmi mengenai penundaan program ini sejak akhir pekan sebelumnya.

"Kami diinformasikan oleh petugas lapangan SPPG sejak Jumat lalu. Bahwa MBG akan diberhentikan sementara waktu sampai batas waktu yang belum ditentukan," tegas Ahmad Susanto, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SD Islamic Global School, ketika diwawancarai wartawan pada hari Senin (8/6/2026).

Manajemen sekolah menjelaskan bahwa mereka tidak menerima rincian mendalam mengenai kendala teknis yang menyebabkan distribusi terhenti. Namun, informasi yang mereka peroleh mengarah pada keterlambatan pencairan dana dari Badan Gizi Nasional (BGN).

"Alasannya sehubungan dengan anggaran di SPPG Bandungrejosari 2 dihentikan, hanya itu saja," terang Ahmad Susanto mengenai minimnya detail kendala yang diterima pihak sekolah.

Meskipun program MBG terhenti, siswa di SD Islamic Global School tetap mendapatkan makan siang karena pihak sekolah memiliki fasilitas internal yang memadai. Menu makan siang disediakan melalui dapur internal yang dikelola oleh juru masak sekolah.

"Karena ada MBG, untuk siang baru ada makan dari sekolah," ungkap Ahmad Susanto, menjelaskan bahwa program sekolah selama ini berjalan paralel dengan bantuan dari pusat.

Menariknya, penghentian sementara ini tidak menimbulkan gejolak atau keluhan signifikan dari para wali murid di sekolah tersebut. Hal ini disebabkan sebagian orang tua murid sempat menunjukkan sikap penolakan terhadap program MBG sejak awal pelaksanaannya.