BOGORPLUS.ID - Pelemahan signifikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah memicu gelombang kenaikan harga pada suku cadang sepeda motor di pasar domestik. Fenomena ini memaksa para pengelola bengkel umum yang berada di pinggir jalan untuk segera melakukan penyesuaian harga jual sejak bulan Mei lalu.

Kenaikan harga komponen kendaraan ini langsung memberikan dampak signifikan terhadap pelaku usaha di sektor perbengkelan. Salah satu contohnya terjadi di Bengkel Putra Prima Motor yang berlokasi di wilayah Bekasi, Jawa Barat, yang mencatat adanya penurunan permintaan dari para pelanggannya.

Penurunan aktivitas ini terlihat jelas dari jumlah kunjungan harian yang kini tidak seramai dibandingkan dengan periode beberapa bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kenaikan biaya perawatan kendaraan yang semakin memberatkan konsumen.

Kasir dari Putra Prima Motor mengonfirmasi adanya dampak langsung dari tren kenaikan harga suku cadang tersebut pada jumlah pengunjung. "Iya ada (dampak penurunan pengunjung sejak harga sukucadang naik). Rata-rata (harga oli) udah naik Rp 20 ribuan," ujar kasir Putra Prima Motor.

Kenaikan harga tidak hanya terbatas pada pelumas atau oli mesin, tetapi juga merembet ke komponen vital lainnya seperti ban sepeda motor. Lonjakan harga ban di tingkat bengkel tercatat sangat drastis, bahkan mencapai persentase dua digit.

Menurut keterangan dari bengkel tersebut, kenaikan harga ban motor sangat terasa pada bulan Mei lalu. "Iya (selain oli) naik semua, hampir semua (suku cadang). Ban apalagi, pas bulan Mei tuh, ban bisa naik sampai 20 persen," tuturnya.

Mengenai proyeksi ke depan, pihak bengkel masih belum memiliki kepastian mengenai kelanjutan tren kenaikan harga pada bulan mendatang. Meskipun demikian, grafik pergerakan harga suku cadang hingga saat ini masih menunjukkan tren peningkatan yang berkelanjutan.

Kasir bengkel tersebut juga menambahkan bahwa beberapa jenis oli masih mengalami kenaikan harga secara bertahap. "Bulan depan belum tahu ya (naik berapa lagi). Itu oli yang MPX matik aja sampai kemarin masih naik aja, Shell juga tuh (naik terus)," kata dia.

Faktor utama di balik kenaikan harga komponen ini adalah depresiasi mata uang Garuda yang telah menembus kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Kenaikan kurs ini berdampak langsung pada harga jual akhir karena mayoritas bahan baku serta material suku cadang masih bergantung pada skema impor.