BOGORPLUS.ID - PT BYD Motor Indonesia angkat bicara mengenai isu penumpukan kontainer milik perusahaan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Perusahaan menegaskan bahwa kontainer yang berada di pelabuhan tersebut tidak berisi unit mobil siap jual, melainkan komponen untuk proses perakitan dan suku cadang.

Klarifikasi ini disampaikan menyusul sorotan publik terkait banyaknya kontainer impor yang tertahan di area pelabuhan. Pihak BYD menjelaskan bahwa penumpukan tersebut terjadi bukan karena kesengajaan penimbunan, melainkan sebagai dampak dari kendala operasional eksternal.

Luther Panjaitan, selaku Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, menyampaikan bahwa manajemen telah melakukan pengecekan data secara menyeluruh pada Jumat (19/6/2026). Hasil pengecekan menunjukkan bahwa kontainer milik BYD hanya merupakan sebagian kecil dari total volume kontainer yang menjadi perhatian publik.

"Dan setelah kami cek angkanya secara komprehensif, jumlah kontainer milik BYD adalah merupakan sebagian kecil dari total volume kontainer yang menjadi perhatian di pemberitaan," kata Luther saat dikonfirmasi pada hari yang sama.

Luther secara spesifik meluruskan informasi mengenai muatan logistik yang tertahan tersebut. Beliau menegaskan bahwa pasokan barang tersebut bukan kendaraan yang sudah siap didistribusikan kepada konsumen akhir.

"Kontainer tersebut bukan berisikan mobil, melainkan komponen untuk proses perakitan dan spare parts," jelas Luther.

Penyebab utama keterlambatan pengeluaran barang di pelabuhan dijelaskan karena adanya hambatan operasional eksternal. Faktor-faktor tersebut meliputi tingginya volume kedatangan barang mingguan, adanya hari libur nasional, kepadatan lalu lintas, serta penyesuaian kapasitas angkut dari penyedia jasa logistik pasca kenaikan harga BBM.

Lebih lanjut, Luther menegaskan bahwa BYD tidak memiliki motif untuk menahan logistik karena biaya yang timbul justru lebih besar jika barang ditahan. "Kami ingin sampaikan bahwa tidak ada upaya kesengajaan untuk memperlambat proses, mengingat biaya penyimpanan dan tambahan penalti harian di Pelabuhan justru lebih besar dibandingkan biaya logistik dan penyimpanan baik milik sendiri atau temporary," kata Luther.

Untuk mengatasi antrean yang terjadi sejak awal Juni, BYD telah mengambil langkah taktis. Langkah tersebut meliputi penambahan armada truk milik perusahaan dan menyiapkan area penyimpanan sementara di sekitar lokasi pelabuhan.