bogorplus.id – Bahan bakar baru asal Indonesia, Bobibos, yang terbuat dari jerami, siap menjadi alternatif energi nasional. Namun, pengembangannya masih terkendala izin pemerintah.

“Kami siap, yang kami butuhkan itu regulasi, investasi, dan proteksi (RIP). Ini alternatif, bukan pengganti, jadi tidak mengganggu bisnis BBM lain,” ujar anggota Komisi VI DPR Mulyadi dilansir dari mata parlemen, Rabu (18/3).

Bobibos hadir di tengah gejolak harga BBM akibat ketegangan di Selat Hormuz, Iran. Meski potensinya besar, jerami belum masuk dalam regulasi transisi energi, yang saat ini fokus pada sawit, tebu, dan aren.

Mulyadi menekankan keuntungan Bobibos: bahan bakar murah, pendapatan petani naik, impor BBM berkurang, lingkungan lebih bersih, kemandirian energi meningkat, dan tercipta lapangan kerja baru.

Dengan luas sawah 11 juta hektar di Indonesia, satu hektar jerami bisa menghasilkan 2.000 liter BBM. 

“Bayangkan, 5 juta hektar saja bisa menghasilkan 10 miliar liter,” jelas Mulyadi.

Sementara menunggu restu di Tanah Air, Bobibos menargetkan pasar internasional, dengan peluncuran pertama di Timor Leste yang akan diresmikan perdana menteri dan presiden setempat.

“Tanpa proteksi, bisnis Bobibos bisa mati beneran,” tegasnya.

Mulyadi menegaskan pentingnya dukungan pemerintah untuk masa depan energi alternatif Indonesia.