BOGORPLUS.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan proyeksi mengenai dampak fenomena iklim El Nino yang diperkirakan akan dirasakan oleh wilayah DKI Jakarta. Prediksi ini menunjukkan bahwa dampak yang akan dialami ibu kota akan memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan daerah-daerah lain di Pulau Jawa.
Menurut informasi yang dipublikasikan pada Rabu (10/6/2026), beberapa kawasan di Jakarta bahkan dilaporkan telah memasuki periode musim kemarau sejak bulan Mei sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa anomali iklim telah mulai terasa lebih awal di sebagian wilayah ibu kota.
Kemarau di Jakarta terjadi dalam dua fase berbeda berdasarkan lokasi geografis di wilayah tersebut. Jakarta Utara dilaporkan telah memulai periode keringnya pada bulan Mei, sementara wilayah Jakarta Selatan baru menyusul memasuki fase kering tersebut pada bulan Juni.
Fenomena El Nino ini diprediksikan akan memicu kenaikan suhu udara yang cukup signifikan di kawasan Jakarta pada bulan-bulan mendatang. Kenaikan suhu ini merupakan salah satu ciri khas yang akan dirasakan warga ibu kota selama masa puncak kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan kondisi cuaca yang akan dihadapi warga Jakarta. "Biasanya DKI Jakarta itu akan terasa lebih 'sumuk' (gerah) kalau orang Jawa bilang itu, sekitar bulan September akhir hingga Oktober karena persis posisi Matahari itu melintas di sekitar wilayah atasnya Pulau Jawa," kata Ardhasena Sopaheluwakan.
Lebih lanjut, BMKG memaparkan bahwa puncak musim kemarau di Pulau Jawa, yang jatuh pada bulan Juli dan Agustus, akan ditandai dengan kondisi udara yang sangat kering karena minimnya curah hujan dan penurunan tingkat kelembapan. Setelah fase tersebut, lonjakan temperatur akan terjadi.
Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan karakteristik ini lebih lanjut mengenai dampak suhu di Jawa. "Jadi itu merupakan karakteristik yang khas dari Pulau Jawa ketika puncak musim kemarau. Lalu temperaturnya akan naik di sekitar bulan September dan Oktober," jelas Ardhasena Sopaheluwakan.
Dampak lain dari minimnya intensitas hujan selama kemarau adalah potensi penurunan kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya. Tanpa adanya pencucian alami oleh air hujan, partikel polutan di atmosfer cenderung bertahan lebih lama di udara.
Secara umum, BMKG memproyeksikan bahwa El Nino akan mulai memberikan dampaknya pada pertengahan tahun 2026 dan diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga awal tahun 2027 mendatang. Lembaga tersebut belum merilis prediksi resmi mengenai kapan musim hujan akan kembali normal.





