bogorplus.id – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim Bersama enam pemimpin daerah lainnya telah menyelesaikan program lokakarya yang membahas dukungan untuk membangun ekonomi sirkuler, terutama terkait plastik, di Indonesia (EIC 02) yang berlangsung di Jepang.
Kehadiran enam kepala daerah ini adalah hasil undangan dari The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnership (AOTS) serta Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang. Seluruh biaya akomodasi ditanggung oleh penyelenggara tanpa mengeluarkan dana dari APBD.
Di lokais tersebut, Dedie Rachim berpartisipasi dalam workshop sekaligus mengunjungi tempat pengolahan sampah.
“Ada beberapa hal yang menjadi pembelajaran bagi Kota Bogor. Bahwa dengan akan dilaksanakannya program Waste to Energy melalui pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), masih tetap diperlukan langkah-langkah pemilahan sampah di hulu,” ujarnya di sela kegiatan meninjau longsor Batutulis, Minggu (1/1/2026).
Meskipun PSEL yang saat ini sedang dalam proses dapat terwujud, sistem pemilahan sampah di hulu tetap harus diperkuat agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Di Indonesia sebenarnya sudah ada pengepul, atau offtaker yang membeli barang-barang tersebut, seperti plastik PET atau PP. Yang membedakan, di Jepang sistemnya dibuat secara kelembagaan. Jadi tidak ada pengepul, tetapi dibentuk lembaga di bawah asosiasi. Kalau di kita seperti bank sampah atau TPS3R,” ujarnya.
Untuk mengadopsi system seperti di Jepang, peningkatan kesadaran masyarakat terkait tanggung jawab pengelolaan sampah perlu terus dilakukan, agar tidak sepenuhnya menjadi beban pemerintah.
Ini berarti setiap individu, rumah tangga, atau tempat usaha harus melakukan pemilahan dan berupaya mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan. Sebab, jika produksi sampah tidak diimbangi dengan pengurangan, pemilahan, dan pengolahan, maka sampah akan terus menumpuk di tempat pembuangan akhir yang pada akhirnya akan kehabisan kapasitas, mengkhawatirkan akan menutupi wilayah dengan sampah.
“Ini akan berdampak besar terhadap lingkungan. Bayangkan kalau terus-menerus dibuang ke TPA, berapa banyak lahan yang harus kita siapkan karena produksi sampah terjadi setiap detik. Dan kalau kita mengandalkan pengelolaan sampah dengan sistem open dumping, tidak akan cukup. Dunia bisa tertutup sampah semua,” jelasnya.