BOGORPLUS.ID - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini memasukkan sejumlah perusahaan asal China, termasuk produsen otomotif BYD, ke dalam daftar hitam mereka. Pemerintah AS menduga kuat bahwa korporasi-korporasi ini memberikan dukungan kepada militer China, menjadikannya ancaman serius bagi keamanan nasional Amerika.

Kebijakan ini secara resmi tercantum dalam dokumen terbaru yang dirilis oleh Departemen Pertahanan AS dengan judul "Entitas yang Diidentifikasi sebagai Perusahaan Militer China yang Beroperasi di Amerika Serikat". Selain BYD, daftar tersebut juga memuat nama-nama besar lainnya seperti Alibaba, Baidu, TP-Link, serta perusahaan teknologi terkemuka lainnya.

Dokumen pertahanan Amerika Serikat secara spesifik menyoroti koneksi antara BYD dengan Komisi Pengawasan Aset Milik Negara (SASAC) serta Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT). Keterkaitan ini menjadi dasar utama pemerintah AS untuk memasukkan BYD ke dalam daftar tersebut.

Pihak Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa BYD merupakan salah satu kontributor dalam upaya fusi militer-sipil terhadap basis industri pertahanan di China. Hal ini disebabkan oleh afiliasi perusahaan dengan MIIT dan lokasinya yang berada di zona perusahaan fusi militer-sipil.

Menanggapi keputusan tersebut, manajemen BYD segera memberikan sanggahan resmi melalui dokumen yang disampaikan kepada Bursa Efek Hong Kong pada hari Selasa (9/6/2026). Perusahaan yang berbasis di Shenzhen ini menegaskan bahwa status mereka sama sekali bukan bagian dari entitas militer.

"Perusahaan (BYD) mencatat bahwa Departemen Pertahanan AS menerbitkan Pemberitahuan Ketersediaan Penunjukan Perusahaan Militer China pada tanggal 8 Juni 2026 (waktu AS). Sesuai dengan Pemberitahuan tersebut, Departemen Pertahanan AS telah memasukkan Perusahaan (BYD) ke dalam daftar Perusahaan Militer China ("Daftar CMC")," demikian pernyataan resmi perusahaan.

Manajemen BYD secara tegas menyatakan keberatan atas langkah sepihak yang diambil oleh otoritas pertahanan Amerika Serikat tersebut. Mereka merasa tuduhan yang dilemparkan tidak berdasar dan tidak akurat.

"Karena Grup (BYD) bukanlah perusahaan militer China maupun kontributor fusi militer-sipil terhadap basis industri pertahanan China, Perusahaan menganggap bahwa tidak ada pembenaran untuk dimasukkannya Perusahaan ke dalam Daftar CMC," tegas manajemen BYD.

Meskipun telah masuk dalam daftar hitam tersebut, BYD memberikan jaminan kepada publik dan investor bahwa operasional bisnis serta aktivitas perdagangan internasional mereka tidak akan terhambat secara signifikan. Daftar ini berbeda dengan daftar sanksi resmi.