BOGORPLUS.ID - Aktivitas krusial peninggian tanggul penahan lumpur Lapindo mulai dilaksanakan oleh Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) di titik 71, yang berlokasi di perbatasan Porong dan Tanggulangin. Upaya darurat ini telah dimulai sejak hari Jumat, 4 Juni 2026, sebagai respons langsung terhadap peningkatan volume material yang terus terjadi.
Langkah tanggap darurat ini diambil setelah pemantauan menunjukkan bahwa permukaan lumpur dan air telah mencapai ketinggian yang melebihi bibir tanggul penahan yang telah ada sebelumnya. Pada hari Senin, 8 Juni 2026, terlihat tiga unit alat berat dikerahkan secara intensif di lokasi strategis tersebut untuk memperkuat struktur penahan.
Misno (60), seorang mantan warga Kelurahan Siring yang berada di lokasi terdampak, mengonfirmasi dimulainya pekerjaan peninggian tanggul tersebut. "Sudah sejak hari Jumat kemarin alat berat bekerja melakukan peninggian tanggul. Sampai hari ini masih terus dikerjakan," kata Misno kepada DetikJatim, Senin (8/6/2026), memberikan kesaksian langsung mengenai proses konstruksi.
Pemkab Klungkung Mulai Bangun Hunian Baru bagi Korban Abrasi Pantai Kusamba Agustus Mendatang
Kenaikan volume air dan lumpur yang terjadi secara konstan memicu kekhawatiran serius karena genangan di dalam area penampungan utama semakin meninggi. Misno menjelaskan bahwa peningkatan ketinggian ini menjadi alasan utama percepatan pekerjaan fisik di lapangan. "Air dan lumpur terus bertambah. Sekarang permukaannya sudah lebih tinggi dari bibir tanggul lama, makanya tanggul ditinggikan," ujarnya.
Kondisi peningkatan volume ini diduga kuat dipicu oleh berhentinya aktivitas pembuangan material lumpur menuju aliran Sungai Porong yang sebelumnya menjadi jalur mitigasi utama. Misno menambahkan bahwa tanpa jalur pembuangan tersebut, tekanan pada tanggul menjadi lebih signifikan. "Sejak tidak ada pembuangan ke Sungai Porong, permukaan air dan lumpur terus naik. Kalau dibiarkan tentu mengkhawatirkan," ungkapnya.
Ancaman terbesar dari luapan yang tidak segera diatasi adalah potensi kerusakan pada infrastruktur vital di sekitar tanggul, termasuk jalur transportasi utama. "Yang dikhawatirkan kalau terus naik bisa mengancam rel kereta api dan jalan raya Porong," tambah Misno, menyoroti pentingnya penguatan tanggul demi keselamatan publik.
Kesaksian serupa datang dari Usmin (54), warga Desa Jatirejo, yang memantau proyek peninggian tanggul yang telah berjalan selama kurang lebih empat hari terakhir. "Sudah sekitar empat hari ini dilakukan peninggian tanggul. Karena memang air dan lumpur terus bertambah, bahkan sudah melewati bibir tanggul yang lama," kata Usmin.
Usmin menekankan bahwa percepatan pengerjaan fisik tanggul merupakan prioritas mutlak untuk mencegah luapan material menuju kawasan pemukiman penduduk atau area jalan raya. "Kalau tidak segera ditinggikan kemungkinan air dan lumpur sudah meluber keluar," jelasnya, menekankan urgensi situasi di lapangan.
Namun, Usmin juga menyampaikan adanya potensi risiko teknis terkait metode pengerukan material baru yang diambil terlalu dekat dari struktur tanggul eksisting. "Tanah untuk peninggian diambil sangat dekat dengan tanggul lama. Untuk mengantisipasi longsor dipasang penahan dari gedek dan tiang bambu," pungkasnya, menggarisbawahi upaya mitigasi risiko tambahan yang dilakukan.





