bogorplus.id - Multitasking, yang didefinisikan sebagai kemampuan mengerjakan beberapa aktivitas atau pekerjaan secara bersamaan, kerap dipraktikkan dengan tujuan menghemat waktu dan energi. Namun, alih-alih efisien, kebiasaan ini justru dipercaya dapat menurunkan kualitas kerja, memicu stres, hingga mengganggu kesehatan fisik.

Secara harfiah berarti "tugas ganda," istilah multitasking merujuk pada tindakan yang dilakukan oleh siapa saja, mulai dari pekerja kantoran, ibu rumah tangga, hingga anak-anak. Banyak orang meyakini bahwa menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus akan mempercepat proses. Padahal, kenyataannya sering kali berlawanan.

Multitasking Bukan Sekadar Tugas Ganda

Multitasking adalah kemampuan mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus atau berpindah cepat antarpekerjaan. Perlu dicatat, istilah untuk perpindahan cepat antar tugas ini sebenarnya disebut task switching. Meskipun demikian, kedua istilah ini sering dianggap memiliki makna yang sama dalam percakapan sehari-hari.

Contoh umum multitasking dalam kehidupan sehari-hari meliputi berjalan sambil membalas pesan singkat, makan sambil membaca atau bekerja, memasak sambil menonton televisi, hingga berbincang sambil bermain gawai. Alasan utama di balik kebiasaan ini adalah persepsi bahwa menyelesaikan pekerjaan secara simultan lebih cepat daripada mengerjakannya satu per satu.

Produktivitas Menurun dan Waktu Lebih Banyak Terbuang

Ketika seseorang melakukan multitasking, otak dipaksa bekerja lebih keras untuk mempertahankan fokus pada beberapa aktivitas sekaligus. Padahal, otak manusia umumnya hanya mampu fokus pada satu hal pada satu waktu.

Kelelahan kognitif akibat upaya fokus ganda ini dapat mengganggu konsentrasi, yang pada akhirnya menurunkan kualitas pekerjaan. Bahkan, kesalahan yang timbul akibat kurang fokus sering kali memaksa seseorang mengulang pekerjaan tersebut, yang ironisnya memakan waktu lebih lama dibandingkan jika dikerjakan secara berurutan.

Selain inefisiensi waktu, multitasking juga mengundang bahaya. Contoh paling nyata adalah saat seseorang membalas pesan atau mengangkat telepon sambil berkendara. Konsentrasi terpecah, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.