bogorplus.id - Seiring datangnya musim hujan, sebagian orang melaporkan perubahan suasana hati menjadi murung, sedih, atau stres. Fenomena ini sering terlihat dari unggahan bernada negatif di media sosial. Ternyata, perubahan emosi saat hujan turun didukung oleh penjelasan ilmiah.

Studi menunjukkan bahwa perubahan cuaca dan suhu memang dapat memengaruhi kondisi psikis seseorang. Jika Anda merasa suasana hati memburuk ketika hujan turun, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar aktivitas tetap berjalan normal.

Penyebab Ilmiah Suasana Hati Menurun Saat Hujan

Perubahan kondisi psikis saat musim hujan terkait erat dengan faktor lingkungan. Musim hujan seringkali memicu rasa jenuh, kelelahan, mudah marah, bahkan dapat memicu gangguan suasana hati yang mendekati depresi dan sakit kepala.

Alasan utama di balik fenomena ini adalah berkurangnya paparan sinar matahari. Kurangnya sinar matahari berhubungan langsung dengan rendahnya kadar dua zat kimia penting dalam otak: melatonin dan serotonin. Pembatasan pasokan serotonin inilah yang membuat seseorang lebih rentan merasa sedih dan stres selama musim hujan.

Risiko lain akibat minimnya paparan sinar matahari termasuk gangguan pola tidur, penambahan berat badan, serta peningkatan nafsu makan, khususnya terhadap makanan tinggi karbohidrat.

Kondisi serupa sangat kentara di negara-negara empat musim. Di negara Barat, musim panas (puncak di bulan Juni) sering menjadi periode paling ceria, sementara musim dingin justru meningkatkan risiko depresi. Dalam terminologi medis, kondisi ini dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD) atau depresi yang berhubungan dengan musim.

Strategi Tetap Ceria di Musim Hujan

Jika hujan memicu suasana hati yang kurang baik, kekhawatiran berlebihan tidak diperlukan. Berikut adalah beberapa tips yang dapat diterapkan agar tetap produktif dan ceria meskipun cuaca mendung: