bogorplus.id - Pertengkaran dalam rumah tangga akibat perbedaan pendapat merupakan hal yang sulit dihindari oleh pasangan suami istri. Namun, para ahli mengingatkan orang tua untuk tidak menunjukkan konflik tersebut di depan anak. Sebab, perselisihan yang disaksikan langsung oleh anak dapat memicu dampak negatif yang serius, baik pada kondisi fisik maupun psikologis mereka.
Konflik antar-orang tua tidak hanya terbatas pada adu argumen verbal atau kekerasan fisik. Sikap saling mendiamkan atau melakukan aksi bungkam (silent treatment) juga dikategorikan sebagai bentuk pertengkaran yang dapat dirasakan oleh anak. Semua bentuk konflik ini berpotensi merusak rasa aman anak di dalam rumah.
Dampak Negatif Pertengkaran Orang Tua pada Anak
Rasa aman seorang anak sangat bergantung pada keharmonisan hubungan kedua orang tuanya. Ketika orang tua sering bertengkar di depan mereka, anak akan merasa takut, cemas, tidak aman, hingga mengalami stres di rumahnya sendiri.
Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, anak berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan fisik dan mental, antara lain:
- Sakit kepala dan sakit perut
- Gangguan tidur dan gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia
- Stres, kecemasan, hingga depresi
- Penurunan rasa percaya diri
- Penurunan prestasi akademis di sekolah
- Risiko penyalahgunaan obat-obatan terlarang di masa depan
Langkah yang Harus Dilakukan Orang Tua
Untuk meminimalisasi dampak buruk tersebut, orang tua disarankan untuk menyelesaikan perselisihan di ruang pribadi yang jauh dari jangkauan anak. Jika situasi tidak memungkinkan, diskusi atau perdebatan sebaiknya ditunda hingga anak telah tertidur.
Apabila anak terlanjur melihat atau mendengar pertengkaran, orang tua harus segera memberikan penjelasan yang bijak. Berikan pemahaman kepada anak bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar bagi orang dewasa, dan situasi tersebut akan segera diselesaikan dengan baik.






.png)