BOGORPLUS.ID - Kecemasan mendalam kini menyelimuti masyarakat di sekitar tanggul Lumpur Lapindo di Sidoarjo. Hal ini disebabkan oleh kenaikan volume air dan lumpur yang dilaporkan hampir menyentuh bibir tanggul penahan.
Situasi genting ini secara otomatis membangkitkan kembali kenangan traumatis warga, terutama penduduk Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin. Mereka masih teringat jelas peristiwa jebolnya tanggul penahan yang sempat terjadi pada tahun 2018 silam.
Dikutip dari Detikcom, sebagai langkah antisipasi terhadap potensi luapan, upaya penebalan dan peninggian pembatas tanggul mulai digenjot sejak hari Senin, 8 Juni 2026. Fokus pengerjaan saat ini diarahkan pada titik 71, yang merupakan batas antara Kelurahan Siring dan Kelurahan Ketapang Keres.
Permukaan material lumpur sempat dilaporkan melebihi batas tanggul lama, sebuah kondisi yang dipicu oleh penghentian sementara pembuangan aliran lumpur menuju Sungai Porong. Hal ini menambah beban pada struktur penahan yang ada.
Selain masalah volume penampungan yang meninggi, kendala lain turut terdeteksi di lapangan, yakni munculnya rembesan air sepanjang kurang lebih 100 meter dari bagian bawah struktur pembatas. Rembesan ini teridentifikasi di titik 68, area perbatasan antara Desa Glagaharum dan Desa Gempolsari.
Ketua RT 11 RW 2 Desa Gempolsari, Sudarmawan, mengungkapkan kekhawatiran warga yang semakin meningkat seiring menipisnya jarak antara permukaan air penampungan dengan titik tertinggi pembatas.
"Kalau melihat kondisi sekarang, warga tentu khawatir. Air sudah hampir menyentuh bibir tanggul. Kami trauma dengan kejadian tahun 2018 saat tanggul ambles sepanjang kurang lebih 100 meter," kata Sudarmawan, Rabu, 10 Juni 2026.
Berdasarkan kalkulasi yang ada, kegagalan struktur pembatas ini berpotensi mengancam keselamatan sekitar 1.000 hingga 1.500 jiwa yang tersebar di enam wilayah RT terdampak langsung. Kondisi ini diperparah dengan krisis air bersih yang dialami warga, di mana pasokan air berbau menyengat dan berkadar garam tinggi.
Warga setempat mendesak pihak berwenang untuk segera memperketat sistem pemantauan di sepanjang jalur tanggul guna mencegah terulangnya bencana besar di masa lalu. "Waktu itu kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kalau sampai jebol, dampaknya bisa seperti gelombang besar yang menerjang permukiman warga," ujar Sudarmawan.






.png)