bogorplus.id - Sekitar 150 incu putu dari berbagai pangauban berkumpul di Bale Gede Gunung Masigit Kareumbi, Cimande, Desa Sindangpakuon, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, pada Sabtu (28/2/2026).

Mereka menegaskan komitmen mereka menjaga kelestarian lingkungan berbasis daerah aliran sungai (DAS) melalui kearifan budaya.

Acara yang merupakan bagian dari Tepang Taun Kabuanaan ke-4 ini menghadirkan diskusi sawala sekaligus persiapan pelaksanaan Laku Patanjala Kabuanaan, gerakan sosial masyarakat yang berpijak pada nilai-nilai budaya untuk merawat alam.

“Setiap pangauban berada di wilayah DAS, yang memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian alam,” kata Anwar Maulana, Ketua Baresan Incu Putu Pangauban (BIPP), Minggu (15/3).

 Ia menegaskan, BIPP bukan yayasan, tetapi organisasi kemasyarakatan yang menaungi incu putu di berbagai pangauban.

Gerakan Laku Patanjala dijalankan melalui tiga tahapan utama: Laku Kasaliraan, Laku Kanagaraan, dan Laku Kabuanaan, yang menjadi landasan nilai dalam merawat hubungan manusia dengan alam.

 “Kegiatan Laku Darma Patanjala Kabuanaan juga merupakan kelanjutan mandat yang sebelumnya dipegang Pangauban Cimanuk, kemudian diteruskan oleh Pangauban Citarum,” lanjut Anwar.

Pertemuan ini juga menjadi momen penting penyerahan mandat Kabuanaan dari Pangauban Citarum kepada Pangauban Cimandiri, sebagai bagian dari siklus kepemimpinan gerakan budaya berbasis DAS.

Menurut Dadan Rahadian, Ketua Panitia Seren Taun Kabuanaan, momentum ini sekaligus evaluasi perjalanan mandat sejak diterima Citarum dari Cimanuk pada 2019.