bogorplus.id– Sejumlah sopir angkutan kota (angkot) trayek 21 rute Ciawi-Baranangsiang mengeluhkan dampak operasional bus stop layanan Bus Rapid Transit (BRT) Biskita Trans Pakuan trayek K2 (Ciawi-Terminal Bubulak).

Mereka mengklaim penurunan drastis jumlah penumpang yang berujung pada pemotongan pendapatan hingga 50 persen sejak bus stop baru tersebut diaktifkan.

Perwakilan sopir angkot trayek 21, Tono, menyatakan bahwa keberadaan bus stop Biskita yang berjumlah tujuh titik di sepanjang rute mereka menyebabkan penumpang beralih menggunakan layanan BRT. Akibatnya, pendapatan harian sopir anjlok signifikan.

"Selama ini kami memang sudah berat. Persaingan dari Ciawi itu sudah banyak, ada Cicurug, Cisarua, Cibedug, ditambah Biskita. Sekarang ada lagi bus stop sampai tujuh titik. Penumpang habis semua ke Biskita, makanya penghasilan angkot berkurang jauh," ujar Tono saat ditemui di Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, Senin (29/6/2026).

Menurut Tono, sebelum adanya penambahan bus stop, angkot masih bisa mengangkut penumpang dalam jumlah memadai.

Namun, saat ini, dari pagi hingga siang hari, jumlah penumpang yang didapat hanya berkisar empat hingga lima orang, jauh dari kapasitas ideal.

Tuntutan Penonaktifan Bus Stop

Akibat kondisi ini, para sopir menuntut agar bus stop Biskita yang berada di jalur mereka dinonaktifkan. Mereka juga menyoroti minimnya koordinasi dalam pemasangan fasilitas tersebut.

"Kalau memang ada bus stop, ya koordinasi dulu dengan Organda dan kami di lapangan. Ini tiba-tiba dipasang, diberlakukannya juga kami tidak tahu. Itu yang membuat kami keberatan," tambah Tono.