bogorplus.id– Minyak dalam wajah mulai berdesis saat Saepudin mengaduk keruk mie kuning dengan sutil panjang di dapur berukurang 2×3 meter.

Rumahnya di tepi Situ Sela, Karadenan, Kabupaten Bogor. Asap tipis mengepul, sementara panas api menyengat wajahnya.

Kerupuk mie kuning ini bisa bertahan sampai dua minggu tidak alot, asal menggunakan minyak yang bagus,”ujarnya saat ditemui.

Dari dapur sederhana inilah, selama 15 tahun terakhir, ia dan istrinya bertahan hidup.

Tangan Saepudin tak pernah jauh dari minyak panas dan wajan hitam di dapurnya.

Lewat kerupuk mie kuning yang digorengnya setiap hari, pria 60 tahun itu menggantungkan harapan untuk menyambung hidup bersama istrinya di Karadenan, Kabupaten Bogor.

Bukan pewaris, tapi perintis itulah yang diucapkan Saepudin sembari menjemur mie kuning diatas genteng rumahnya.

Kerupuk yang terbuat dari tepung tapioka itu, bapak satu anak ini beli langsung dari pabrik yang lokasinya tak jauh dari rumahnya.

“Kita bisa dapet sampe lima bal gini, ukuran satu bal 5 kg, isi 1 bal 150 biji, sehari habis sehari habis,”katanya.