BOGORPLUS.ID - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Semarang mengakhiri aksi unjuk rasa mereka di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Rabu (17/6/2026). Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi mengenai sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak kepada kepentingan rakyat luas.

Aksi demonstrasi tersebut diikuti oleh sekitar 300 massa mahasiswa dan diawali dengan kegiatan long march yang strategis. Mereka bergerak dari kawasan Kota Lama, singgah di Balai Kota Semarang, sebelum akhirnya memusatkan perhatian di kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah sebagai tujuan akhir.

Ketua PC PMII Kota Semarang, Muhammad Afiq Nur Cahaya, menjelaskan bahwa rangkaian pergerakan massa sengaja dilakukan dengan berhenti di beberapa titik penting. Salah satu titik pemberhentian adalah Balai Kota Semarang untuk menyalurkan keluh kesah melalui orasi pembuka.

"Kita berhenti sejenak di kantor Balai Kota. Kita berorasi, menyampaikan keluh kesah, dan aksi simbolik dengan menyalakan klakson secara serentak dan muter di Tugu Muda sebagai bentuk titik perlawanan dan perjuangan di Semarang," kata Muhammad Afiq Nur Cahaya, Ketua PC PMII Kota Semarang.

Sebagai bentuk protes terhadap kondisi ekonomi terkini, para mahasiswa melanjutkan aksi dengan melakukan mogok sepeda motor secara kolektif. Aksi simbolis ini dilakukan di sepanjang Jalan Pandanaran menuju Simpang Lima hingga Pleburan.

Muhammad Afiq Nur Cahaya menjelaskan makna dari aksi mogok kendaraan tersebut, yang merefleksikan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak. "Terus di Jalan Pandanaran menuju ke Simpang Lima sampai Pleburan kita melakukan aksi mogok motor. Itu simbol BBM naik meski nonsubsidi yang naik, itu berdampak ke stabilitas ekonomi masyarakat," lanjut Muhammad Afiq Nur Cahaya, Ketua PC PMII Kota Semarang.

Gerakan ini dideklarasikan sebagai manifestasi kekecewaan mahasiswa terhadap langkah-langkah pemerintah yang diambil selama ini. Pihak PMII menegaskan bahwa kritik yang disampaikan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai intelektual dalam menyampaikan pendapat.

"Kehadiran kami hari ini adalah pengingat bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Pemerintah harus mendengar suara masyarakat dan jawaban persoalan-persoalan yang selama ini dirasakan rakyat," ucap Muhammad Afiq Nur Cahaya, Ketua PC PMII Kota Semarang.

Pihak PMII memberikan ultimatum tegas kepada pemerintah daerah maupun pusat untuk menanggapi tuntutan mereka. Jika dalam jangka waktu yang ditentukan tidak ada respons positif, mereka mengancam peningkatan skala gerakan.