bogorplus.id - Gema takbir yang mulai bersahutan di ufuk timur menandakan berakhirnya bulan suci Ramadan dan datangnya hari kemenangan, Idulfitri.
Di Indonesia, perayaan ini tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran ikon kuliner yang paling dinanti: ketupat.
Hidangan nasi yang dibungkus anyaman janur kelapa ini bukan sekadar makanan pendamping opor ayam atau rendang, melainkan simbol permohonan maaf dan kebersamaan yang telah mengakar selama berabad-abad.
Namun, di balik kesederhanaan tampilannya, proses pembuatan ketupat yang sempurna yang memiliki tekstur pulen, berwarna cerah, dan tidak cepat basi memerlukan ketelitian serta pemahaman teknis yang mendalam.
Banyak rumah tangga yang masih menghadapi kendala klasik, mulai dari ketupat yang terlalu lembek, keras, hingga janur yang pecah saat proses perebusan yang memakan waktu berjam-jam.
Secara historis, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo, sebagai sarana dakwah di tanah Jawa pada abad ke-15.
Istilah "ketupat" atau "kupat" dalam filosofi Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).
Empat sisi ketupat melambangkan lebaran (pintu ampunan terbuka), luberan (melimpahnya rezeki dan sedekah), leburan (meleburnya dosa), dan laburan (menjaga kebersihan diri).
Dengan latar belakang filosofis yang begitu kuat, tidak mengherankan jika setiap keluarga Indonesia berusaha menyajikan ketupat terbaik di meja makan mereka.