bogorplus.id– Kasus dugaan pecehan seksual meninpa dua santriwati di salah satu Pondok Pesanteren (Ponpes) di wilayah Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.
Tindakan tak terpuji itu menimpa Y dan S pada tahun 2023 lalu. Mereka baru melaporkan kasus itu pertengahan tahun 2025.
“Mereka memberanikan diri untuk melapor setelah tau bahwa ada korbannya tidak hanya satu orang, jadi memberikan diri mereka atas dasar solidaritas sesama korban akhirnya speak up kemudian lapor,” ujar Kuasa Hukum Santriwati, M. Daniel, Rabu (25/2).
Ia mengatakan adanya rentang waktu dari kejadian sampai ke tahap pelaporan karena para korban tidak mudah untuk menyampaikan kejadian yang sudah dialaminya.
Dirinya menambahkan, para korban perlu mengumpulkan mental dan keberanian untuk memberikan keterangan terhadap kelakuan guru di Ponpes itu.
Kata dia, guru tersebut berinisial AF alias AS demi memuaskan nafsunya melakukan modus dengan memberikan doktrin kepada para korban.
Doktrin yang diberikan yakni, para korban harus menuruti tersangka agar mendapat keberkahan.
“Yang ada doktrin, bahwa untuk dapat keberkahan dan lain sebagainya, guru dan murid, murid itu harus nurut, harus taat apa yang diucapkan guru,”ucapnya.
Daniel yang tergabung dalam Tim Advokasi Santri menambahkan, AF alias AS melakukan kegiatan bejadnya di lingkungan Ponpes.