BOGORPLUS.ID - Pengelola kawasan cagar budaya Between Two Gates di Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta, mengambil langkah tegas untuk mengatur kunjungan wisatawan demi menjaga kenyamanan dan privasi warga setempat. Keputusan ini diambil setelah kawasan permukiman tradisional tersebut sempat mengalami penutupan sementara akibat kedatangan rombongan pelancong yang dinilai mengganggu ketenangan.

Kawasan Between Two Gates dikenal sebagai area hunian yang masih aktif dihuni oleh masyarakat lokal. Nama unik ini merujuk pada tata ruang arsitektur spesifik yang berada di antara dua gerbang, hasil penelitian bersama Arsitektur UGM dan Universitas Wisconsin pada tahun 1986.

Pengelola kawasan tersebut, Joko Nugroho, menjelaskan bahwa area ini mengusung konsep tata ruang tradisional Jawa yang menekankan keterhubungan antar-rumah warga. Konsep ini dikenal dengan istilah "rukunan" dalam konteks Kotagede.

"Ini sebenarnya bukan jalan umum, melainkan bagian dari rumah warga. Konsepnya di Kotagede disebut rukunan," ujar Joko Nugroho saat berbincang di lokasi pada Minggu (7/6).

Joko Nugroho melanjutkan bahwa keterbukaan akses pada bangunan di area tersebut sering menimbulkan kesalahpahaman bagi pengunjung luar. Hal ini membuat area privat terlihat seperti perlintasan publik bagi orang yang tidak mengetahui konteksnya.

"Jadi karena ini semuanya itu menghadapnya sama, kemudian komposisi tata ruangnya sama, sehingga kalau ini dibuka itu kan menjadi satu deretan yang seolah-olah ini menjadi sebuah jalan gitu, padahal ini sebenarnya bukan jalan umum dan ini menjadi bagian dari rumah," jelas Joko Nugroho.

Untuk mengantisipasi gangguan lebih lanjut, pihak pengelola kini mewajibkan setiap rombongan wisata untuk mengirimkan pemberitahuan terlebih dahulu sebelum berkunjung. Tujuannya adalah agar warga dapat mempersiapkan diri dan aktivitas sehari-hari mereka tidak terganggu.

"Biasanya mereka memberi tahu dulu, tanggal berapa datang, jumlah tamunya berapa, dan kegiatannya apa. Jadi warga bisa mempersiapkan," tutur Joko Nugroho.

Namun, kendala terbesar justru datang dari pengunjung mandiri yang datang secara sporadis, sering kali terpengaruh oleh popularitas di media sosial. Pengelola kesulitan mengontrol kedatangan perorangan yang tidak terencana.