BOGORPLUS.ID - Perjalanan menuju Kampung Kadubengkung di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, menyuguhkan udara sejuk khas pegunungan yang langsung terasa saat melintasi jalanan yang berkelok tajam. Kawasan ini dikelilingi oleh vegetasi hutan yang masih sangat rapat, memberikan nuansa asri dan magis bagi siapa pun yang berkunjung.
Kondisi geografis ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat setempat yang berdekatan dengan lanskap kampung adat Kasepuhan. Komunitas ini dikenal masih memegang teguh tradisi leluhur dan berusaha hidup selaras dengan lingkungan alam di sekitar mereka.
Di tengah bentangan hijau tersebut, tersembunyi Kampung Kadubengkung yang menyimpan kisah tentang masa keemasan alamnya. Nama kampung ini kini terasa ironis, sebab ikon utamanya yang menjadi asal-usul nama tersebut sudah lama menghilang dari lanskap perkampungan.
Secara harfiah, dalam bahasa Sunda, kata 'Kadu' merujuk pada durian, sedangkan 'Bengkung' berarti melengkung atau doyong. Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa dekade silam, kampung ini pernah menjadi pusat utama bagi para pencari durian berkualitas premium.
Hendi Adom (57), seorang warga yang lahir dan tumbuh di wilayah tersebut, mengenang masa lalu keluarganya dengan penuh nostalgia. Ia menceritakan kembali kisah yang diwariskan ayahnya mengenai masa sekitar 70 tahun lampau, ketika aroma durian mendominasi kehidupan sehari-hari warga.
"Nama Kadubengkung tuturnya, diambil dari sebuah pohon durian yang wujudnya sangat tidak biasa," ujar Hendi Adom, mengenang pohon durian ikonik yang menjadi penanda kampung tersebut.
Kisah mengenai pohon durian yang menjadi penanda utama Kadubengkung tersebut menjadi inti dari identitas historis kampung ini. Pohon yang unik itulah yang kemudian memberikan nama pada wilayah yang dulunya merupakan surga bagi buah berduri tersebut.
Saat ini, kampung tersebut tidak lagi dikenal sebagai penghasil durian utama, seiring berjalannya waktu dan perubahan orientasi perkebunan di wilayah tersebut. Pergeseran ini menunjukkan bagaimana lanskap agrikultur dapat berubah seiring waktu, bahkan mengubah identitas sebuah permukiman.
Perkembangan ini membawa perubahan signifikan pada ekosistem pertanian lokal, di mana tanaman lain, seperti cengkih, kini mulai mendominasi lahan yang sebelumnya didedikasikan untuk durian. Hal ini menjadi babak baru dalam narasi agraris Kampung Kadubengkung.






.png)